Selasa, 23 November 2010

Peluang di Balik Bayang-Bayang Kebijakan Cina


Apakah Anda tahu dengan isu apa yang berkembang di pasar, di tengah masih belum yakinnya pasar akan keberlangsungan pemulihan ekonomi dunia pasca resesi 2008? Ternyata negeri tirai bambu, Cina, yang baru saja mengeluarkan wacana akan kemungkinan untuk menaikkan level suku bunganya di tengah ancaman laju inflasi yang melebihi batas ekonomi Cina. Perkembangan kenaikan harga pangan membuat inflasi pada Oktober lalu naik 4,4% dibanding periode yang sama tahun 2009. Angka inflasi ini melebihi ekspektasi para ekonom dan merupakan inflasi tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Walaupun tingkat pertumbuhan ekonomi Cina adalah salah satu ranking tertinggi di dunia setelah Singapura yang sempat mencatatkan level pertumbuhannya sebesar 19,6%. Ekspansi ekonomi Cina didinginkan menjadi 10,3% pada kuartal kedua dari 11,9% dalam tiga bulan pertama di tahun ini karena pemerintah memangkas pertumbuhan kredit dari rekor tahun lalu dan mengurangi spekulasi di real estate. 
Nampaknya pemerintah Cina harus cukup meradang di tengah ancaman akan “bubble economy” atau ledakan pertumbuhan ekonomi berlebih serta ancaman dari lonjakan inflasi. Angka inflasi yang berada diatas 4% telah memaksa bank sentral Cina untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,5%. Oktober lalu, Cina menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,25% sehingga suku bunga acuan untuk simpanan naik menjadi 2,25% dan suku bunga acuan untuk kredit sebesar 5,56%.
Memang, memilih kebijakan menaikkan suku bunga pada saat ini merupakan kebijakan yang tidak populer mengingat kebanyakan negara maju yang tetap memilih suku bunga rendah demi mempertahankan laju roda perekonomiannya. Suku bunga yang lebih tinggi akan mendinginkan ekspansi ekonomi Cina yang overheating. Pilihan suku bunga yang tinggi ini akan semakin membuka ruang bagi para pemilik uang di Cina untuk menyimpan uangnya di perbankan Cina. Tetapi suku bunga yang tinggi juga akan meningkatkan ketertarikan bagi investor internasional untuk membeli renminbi dan berinvestasi di Cina. Hal ini juga akan membawa resiko bagi penguatan renminbi. Padahal pemerintah Cina terlihat mempertahankan nilai tukar terhadap mata uang lainnya. Cina berusaha agar nilai tukar yuan tetap rendah. Sejak Konferensi Tingkat Tinggi G20 dimulai di Toronto bulan Juni, Cina mengurangi kontrolnya dan membiarkan yuan menguat terhadap dolar dengan tidak lebih dari 2,5%. 
Kebijakan peningkatan level suku bunga oleh bank sentral Cina ini menjadi menarik di tengah sempat naiknya harga komoditas dunia. Seperti komoditas emas berjangka yang sempat menguat ke level tertingginya dalam sejarahnya di US$1424.15. Berita perkembangan Cina telah menekan permintaan emas sehingga sempat menekan harga emas ke level US$1364.50. Tidak hanya pasar komoditas yang merasakan dampak kebijakan Cina, Bursa saham Asia jatuh, dengan indeks patokan regional mencatatkan penurunan mingguan terbesar dalam tiga bulan, menyusul spekulasi bahwa Cina akan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. 

Market Update
Dalam sepekan ini diperkirakan Poundsterling akan bergerak dalam kisaran range 1.6299 - 1.5837 dengan support di 1.5927 dan resistance di 1.6120. Untuk Euro diperkirakan bergerak dikisaran level 1.3968 - 1.3570 dengan support di 1.3628 dan resistance di 1.3880. Untuk komoditi emas diperkirakan akan bergerak di kisaran range $1372.40 - $1348.80 dengan support di $1353.70 dan resistance di $1351.75

Tidak ada komentar:

Posting Komentar