Rabu, 23 Desember 2009

Review Efek Dollar ke Sektor Keuangan Global




2010 akan segera dimasuki, pelbagai peristiwa ekonomi telah banyak mempengaruhi pergerakan pasar awal tahun sampai dengan menjelang penghujung tahun 2009 ini. Pergerakan perdagangan disesi akhir 2009 terpantau didominasi oleh penguatan dollar AS. Beberapa bulan lampau dollar AS sempat terpuruk imbas adanya sentiment negatif kondisi ekonomi AS yang masih belum stabil. Peralihan investasi dari sektor keuangan ke sektor komoditi yang cenderung lebih stabil terhadap tekanan inflasi. Sektor komoditi kembali menjadi instrument save haven di tengah belum kuatnya kepastian akan kekuatan ekonomi AS serta perkembangan data ekonomi negara-negara Eropa yang masih dalam level buruknya. 
Beberapa waktu menjelang tutup tahun 2009 ini dollar AS kembali menunjukkan konsistensinya penguatan walau masih minim daya tarik dollar rendah akibat suku bunga yang sangat rendah. Hal ini imbas dari data tingkat kepercayaan ekonomi dunia yang berada dikisaran rekor tinggi ditengah sinyal menguatnya pemulihan AS dan bertambahnya bank-bank yang mampu membayar hutangnya kembali, menurut survey Bloomberg. Indeks MSCI meningkat 69% dari titik rendah tahun ini pada Maret 2009 terkait ekonomi global keluar dari resesi terburuk sejak PD II, mendorong pembuat kebijakan untuk menghentikan stimulus darurat. Terlebih pasar keuangan, yang sempat anjlok akibat Dubai World mencoba menunda pembayaran hutang bulan lalu, telah kembali pulih terkait investor melihat bahwa resiko kegagalan telah mereda.
Sektor komoditi terutama minyak dan emas tertekan dari kondisi penguatan dollar AS beberapa sesi perdagangan ini. Sikap para pelaku pasar yang kembali berinvestasi disektor keuangan berimbas kepada pelemahan komoditi. Faktor ambil untung juga diduga menjadi pemicu koreksi harga emas. Emas yang pada sesi sebelumnya sempat menyentuh rekor tertingginya sepanjang dekade di level US$ 1226.10 per troy ons jatuh terkoreksi ke US$ 1094.10 per troy ons. Begitu pula dengan minyak yang juga sempat stagnan dikisaran level US$ 69 per barrel dalam beberapa minggu. Minyak sempat menguat ke level level US$ 75 per barrel setelah data penurunan cadangan minyak AS. Meskipun dalam trend bearish / melemah dalam beberapa pekan perdagangan namun kedua sektor komoditi tersebut tercatat bergerak menguat dari titik terendahnya tahun 2009.
Terhadap beberapa mata uang mayor, pergerakan dollar AS tampak bervariatif. Euro terhadap dollar 2009 bergerak dalam range trading 1.2455-1.5154 jika dibandingkan dengan nilai tertingginya, untuk level saat ini di kisaran 1.4300. Menjelang akhir tahun ini euro telah melemah sebesar 38.40%. Mata uang Jepang tahun 2009 bergerak dikisaran 101.43-84.80. Yen Jepang menguat dalam beberapa bulan perdagangan, namun pelemahan yen terjadi menjelang penutupan sesi perdagangan akhir tahun 2009 sebagai faktor koreksi dikisaran level 90. Pelemahan ini direspon positif oleh Wakil Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan, yang menginginkan pelemahan mata uang domestic Jepang yang menjauhi level tertinggi 14 tahunnya terhadap dolar dikisaran 84.80. Sementara itu terhadap poundsterling , dollar AS terpantau bergerak dalam trend bearish, melemah terhadap sterling dengan range level dikisaran 1.7042-1.3503 dan jelang penutupan akhir tahun 2009, poundsterling berada dikisaran level 1.6140. "Kondisi fiskal Inggris terus memburuk di bulan November tapi tidak sejelek perkiraan," kata James Knightley, ekonom ING. "Bagusnya data tenaga kerja dan pulihnya ekonomi diharapkan dapat membantu pendanaan anggaran negara dan ekonom perkirakan Inggris akan tumbuh kembali di kwartal pertama 2010.
Fokus pada kelanjutan pemulihan ekonomi tampaknya masih akan mempengaruhi pergerakan pasar tahun 2010 yang akan datang. Kondisi sektor keuangan yang sudah makin stabil akan kembali membawa sikap positif pelaku pasar kembali berasumsi bahwa sektor keuangan sebagai instrument investasi yang menarik. Hal ini tentunya akan semakin menggairahkan pasar perdagangan tahun 2010 yang akan datang. Bila tidak siap-siap alihkan fokus anda pada sektor komoditi tahun 2010. 

Selasa, 15 Desember 2009

Outlook Krisis Dubai akan Krisis Finansial 2010


Krisis keuangan yang terjadi di Dubai beberapa waktu yang lalu sempat mengguncangkan sektor keuangan dunia yang notabene sedang menjalani tahap pemulihan dari krisis terburuk sejak tahun 1930an.

Dubai World, pengelola utama pembangunan Dubai, November lalu sempat mengumumkan gagal bayar atas sebagian utang yang jatuh tempo. Efek berantai yang ditakutkan pasar adalah kekacauan ekonomi yang kembali terjadi bilamana efek terbesar kekhawatiran bank-bank internasional yang bisa menderita kerugian besar jika utang Dubai sebesar US$60 miliar macet. 
Dalam moment tersebut Dubai World meminta kepada seluruh penyedia dana Dubai World dan Nakheel untuk tidak membayar utang (standstill) dan memperpanjang jatuh tempo pembayaran menjadi paling tidak 30 Mei 2010. Dubai World agresif dalam berinvestasi pada bisnis properti di Amerika Serikat, Inggris dan Afrika Selatan. Akibat krisis global, pasar perumahan Dubai terperosok. Beberapa bulan lalu, Dubai World memiliki utang lebih dari US$59 miliar, atau sekitar tiga perempat utang pemerintah US$80 miliar. Respon pasar sangat cepat pada saat itu dimana level saham komoditas melemah di New York, London, dan Asia. Investor memilih untuk segera mengalihkan investasi kedalam bentuk dolar AS yang dianggap lebih aman. Pengumuman ini memunculkan spekulasi bahwa negara kaya di Uni Emirat Arab (UEA) itu diambang krisis. Yang menjadi hal menarik adalah Dubai sebagai daerah impian di tengah gurun dapat mengalami kemunduran kemampuan membayar hutangnya. Dubai juga menjadi symbol kemakmuran penghasil minyak, setelah kejadian mengejutkan ini maka mengingatkan akan tetap terbukanya kemungkinan efek krisis bagi setiap negara tanpa terkecuali.
Bank-bank besar yang berusaha memulihkan tingkat kestabilan modal dan return mereka nampaknya harus kembali waspada dan mulai melakukan kebijakan pengetatan pinjaman dari kemungkinanan gagal bayar setiap korporasi. Mulai dari Baltik hingga daerah Mediterania, perbankan mulai memperhatikan pinjaman yang akan segera jatuh tempo. Bahkan di daerah Rusia sebagai penghasil minyak mentah juga mulai melakukan penghitungan ulang akan kemampuan pengembalian hutang yang akan segera jatuh tempo. Negara-negara kaya seperti Jepang dan Amerika harus menaikkan tingkat pengeluaran pemerintahnya demi menstimulasi laju ekonominya, tengah dilanda kekhawatiran akan kuat tidaknya untuk terus menanggung beban utang dan pelebaran defisit keuangan yang semakin besar. Terlebih dengan berkembangnya ancaman pembengkakan inflasi. 
Dari data yang ada terdapat fakta yang cukup mengejutkan. Misalnya pada keuangan Jerman yang mengalami pembengkakan defisit keuangan. Tingkat hutang pemerintah yang beredar diperkirakan meningkat menjadi setara dengan 77% dari output ekonomi nasional tahun depan, dari 60% pada tahun 2002. Data yang lebih mengejutkan lagi adalah fakta bahwa pembengkakan hutang juga terjadi di Inggris dimana terjadi pelipatan hutang sebesar 80%. Dengan masih belum pulihnya kekuatan ekonomi global, nampaknya masih akan banyak negara yang akan membutuhkan dana talangan demi tetap menjaga laju ekonominya. 
Hanya saja tidak ada jaminan yang kuat dari bagi pinjaman korporasi dari pemerintah akan kemungkinan gagal bayar keuangannya. Sikap penolakan dari pemerintah Dubai terhadap penjaminan hutang Dubai World dapat menimbulkan preseden buruk bagi jaminan terhutang pemerintah yang dapat sewaktu-waktu meninggalkan korporasi yang pernah mendapatkan dukungan penuh pemerintah. Kemungkinan sama pada tahun 2010 akan terjadi akan besar mengingat akan berkurangnya kemampuan pemerintah untuk terus menjamin hutang korporasi yang ada.
Beberapa waktu kedepan negara-negara yang kini bertugas sebagai penjamin implisit mengubah fokus mereka untuk masalah-masalah ekonomi domestik mereka. Salah satu ciri krisis finansial adalah beberapa pemerintah yang lebih memilih pengambilan utang jangka pendek. Di Amerika Serikat, misalnya, utang Treasury jatuh tempo dalam satu tahun telah meningkat dari sekitar 33 persen dari total utang dua tahun lalu menjadi sekitar 44 persen pada musim panas ini. Amerika Serikat akan segera memiliki masalah utang sendiri. Kemungkinan kebijakan untuk mengurangi jatah kucuran dana bagi negara berkembang akan semakin besar. Hal inilah yang akan bertumbuh menjadi kesulitan besar bagi begara berkembang disaat negara berkembang akan menghadapi kebutuhan pembiayaan hutang jatuh tempo mereka maka negara berkembang mungkin harus meminjam uang sekitar US$65 miliar pada 2010 . 

Selasa, 08 Desember 2009

Sektor Tenaga Kerja Sempat Apresiasi US$


Sektor tenaga kerja AS secara mengejutkan dirilis menguat diatas perkiraan para analis. Jumlah tenaga kerja AS di sektor non-pertanian dirilis melemah 11 ribu tenaga kerja. Data ini jauh lebih baik daripada perkiraan analis akan adanya pelemahan tenaker sejumlah 111 ribu. Selain dari itu, data yang lebih mengejutkan pasar adalah membaiknya tingkat pengangguran AS ke level 10%. Pada bulan lalu US$ sempat tertekan tajam terhadap mata uang lainnya. Ketika itu tingkat pengangguran dirilis membengkak ke level 10.2% pada bulan Oktober atau level terburuk dalam 26 tahun terakhir.

Lemahnya data tenaker tersebut menumbuhkan lemahnya kepercayaan terhadap kemampuan korporasi AS dalam memanfaatkan dana stimulus yang telah dikeluarkan oleh pemerintahan Obama sebesar 787 milyar US$. 
Dollar dalam sebulan perdagangan yang lalu menjadi mata uang yang yang masuk dalam zona pelemahan tajam. Terlebih dari itu pelemahan mata uang US$ menjadikan pengalihan gaya investasi yang mencari imbal balik yang lebih tinggi dan dinilai aman dari gejolak kenaikan inflasi. Hal ini seperti yang terjadi pada nilai kontrak berjangka emas dari level terendah tahun ini di US$801.90 per ounce telah menguat ke level rekor tertinggi tahun ini di US$1.226.10 yang dicapai Selasa (1/12) atau penguatan sekitar 52.8%. 
Membaiknya data tenaga kerja menjadi factor pemicu penguatan dollar serta memicu kekuatan koreksi dollar terhadap mata uang mayor lainnya. Pada sesi perdagangan Jumat (4/12) EUR sempat bergerak melemah ke level terendah minggu lalu di 1.4821 terhadap US$ atau melemah 5.3%. Begitu pula dengan mata uang Poundsterling yang tertekan ke level 1.6421 terhadap US$ atau tertekan 3.7%. Tekanan juga dialami oleh mata uang Yen Jepang yang juga melemah sebesar 3.1% ke level US$ 90.76 terhadap US Dollar. Reli penguatan US$ pada sesi perdagangan Jumat lalu disebabkan adanya anggapan turunnya tingkat pemotongan hubungan tenaga kerja tersebut adalah sinyal momentum perbaikan arah ekonomi AS sejak krisis terburuk tahun 1930-an. 
Di tengah kekuatan ekonomi AS yang bertumbuh menguat dalam kuartal ke empat tahun ini dan perbaikan data tenaker tersebut, analis juga memperingatkan akan kemungkinan kembali membengkaknya tingkat pengangguran AS. Perhatian terhadap pola kebijakan korporasi AS yang melanjutkan sistem kontrak tenaker menjadi penting di tengah perbaikan ekonomi AS.
Data sektor tenaga kerja merupakan indikator utama yang menjadi salah satu acuan pasar dalam menilai kekuatan ekonomi Amerika. Setelah US$ sempat tertekan tajam akibat krisis finansial yang lalu, pemerintahan Obama mengeluarkan dana stimulus sebesar US$787 milyar demi menanggulangi pembengkakan angka perusahaan yang terpaksa gulung tikar dan menyatakan kepailitan. Pembengkakan pengangguran terjadi seperti pada awal tahun ini beberapa perusahaan raksasa Amerika seperti General Motors, Caterpillar, Pfizer mengumumkan angka pemotongan tenaker sebesar 45ribu. 

Suku bunga Swiss dan Inggris
Minggu ini akan juga dirilis dua data suku bunga SNB (Swiss National Bank) dan BoE (Bank of England). Pengumuman kebijakan suku bunga minggu ini akan diawali oleh SNB yang dijadwalkan akan merilis pada hari Kamis (10/12) dimana diprediksikan akan tetap mempertahankan level suku bunganya di level 0.25%. SNB masih menerapkan kebijakan ekspansif dengan zero interest rate policy-nya. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pemulihan perekonomian di negara tersebut. Ancaman deflasi masih membayangi perekonomian Swiss, sehingga masih kecil sekali kemungkinan SNB akan beranjak untuk menaikkan suku bunga acuannya. Begitu pula dengan BoE yang akan merilis pengumuman suku bunganya pada hari Kamis (10/12). Pola mempertahankan suku bunga rendah nampaknya akan masih menjadi pilihan bagi BoE dengan tetap menjaga rate di 0.50%. Nilai produksi Inggris telah turun hampir 6% sejak awal tahun 2008. Pendapatan domestik bruto terus menurun dalam kuartal ketiga. 
Kita lihat apakah data ekonomi AS dan negara lain minggu ini akan mengakibatkan berlanjutnya penguatan US$ atau semakin membuka peluang akan pengalihan investasi ke portofolio lainnya.

Selasa, 01 Desember 2009

Fokus Data Ekonomi Minggu Ini


Fokus pasar terhadap kebijakan suku bunga dari negara-negara mata uang mayor dunia serta terhadap perkembangan dari sektor tenaga kerja Amerika akan menjadi fokus minggu ini.

Perdagangan sesi minggu lalu, dollar Amerika tertekan tajam oleh penguatan Yen Jepang. Pelemahan dollar terhadap Yen Jepang tersebut telah membawa kepada level terkuatnya dalam 14 tahun terakhir ini yang berada pada level 84.79 atau menguat 4.9% terhadap dollar AS. Pelemahan dollar terhadap Yen tersebut merupakan pelemahan terbesar sejak tahun 1995 setelah pemerintah Amerika menyatakan AS tidak akan menjadi negara yang menopang pemulihan ekonomi sejak krisis finansial. Penguatan Yen yang tajam tersebut memaksa Menteri keuangan Hiroshisa Fujii untuk menghubungi otoritas AS dan Eropa mengenai kebijakan yang perlu dalam menghadapi penguatan Yen yang berlebihan. 
Tekanan yang dihadapi dollar Amerika juga mendorong penguatan pada mata uang Euro hingga menyentuh titik tertinggi di tahun ini di 1.5143 atau penguatan 1.1% dari titik terendah Euro pada awal tahun ini. Kepercayaan masyarakat Eropa terhadap outlook ekonomi Eropa membaik ke level tertinggi satu tahun ini di bulan November. Hal ini sebagai pertanda kuatnya pemulihan dari resesi terburuk dalam enam dekade. Selain itu indeks sentimen ekonomi Eropa dirilis naik ke level 88.8 yang merupakan level tertinggi sejak September 2008.
Begitu pula dengan penguatan yang terjadi di mata uang Swiss Franc yang mencapai level terkuatnya dalam tahun ini di 0.9915 atau penguatan 0.19% dari titik tertinggi tahun ini. Penguatan tersebut memaksa SNB (Swiss National Bank) untuk mengintervensi pasar valas sejak Maret dengan cara menjual franc demi melemahkan mata uangnya dan menghindari deflasi. SNB juga menurunkan bunga mendekati level nol persen dan membeli obligasi sejumlah perusahaan. 
Di lain pihak, dollar Australia diperdagangkan melemah terhadap dollar Amerika hingga ke level 0.8944 atau pelemahan 0.04% dari titik tertinggi minggu lalu. Pesimisme terhadap kekuatan perekonomian Australia tergambarkan dari belanja modal swasta Australia turun 3,9% pada kuartal III, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar $26,55 milyar. Pelemahan yang terjadi pada mata uang negara kangguru tesebut juga dipengaruhi oleh sentimen antisipasi pengumuman suku bunga Australia yang akan diumumkan pada sesi minggu ini.

Fokus Data Mayor
Selasa ini (1/12) RBA (Reserve Bank of Australia) diestimasikan akan menaikkan suku bunga dikarenakan ekonomi global telah melanjutkan pertumbuhan. Pengumuman yang akan dirilis pada pukul 10.30WIB tersebut menjadi wacana tersendiri di tengah pola kebijakan moneter Australia yang menaikkan suku bunganya dalam proses pemulihan krisis ini. Kondisi ekonomi di Australia dinilai lebih kuat daripada yang diharapkan dan indeks kepercayaan telah pulih. Prospek jangka menengah untuk investasi muncul ke arah positif. Ada beberapa tanda-tanda awal sebuah perbaikan dalam kondisi pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran sekarang cenderung berada pada tingkat yang rendah daripada sebelumnya.
Fokus pasar juga akan teralihkan pada jadwal pengumuman suku bunga Eropa yang akan dirilis pada hari Kamis (3/12). Pola kebijakan yang tetap mempertahankan level suku bunga mendekati nol persen (1%) nampaknya masih menjadi pilihan bagi ECB (European Central Bank). Inflasi Eropa tetap negatif pada bulan Oktober, pada -0,1%, namun diperkirakan akan berbalik positif lagi di November karena kenaikan harga minyak sebesar 15%. Masih lemahnya data perekonomian Eropa dan masih rentannya pemulihan ekonomi global menjadi tekanan bagi ekonomi Eropa.
Namun data yang tidak kalah pentingnya adalah pengumuman tingkat pengangguran Amerika yang dijadwalkan dirilis hari Jumat (4/12) ini. Pasar akan sangat memperhatikan data ini mengingat data tingkat pengangguran di bulan Oktober yang berada di level 10.2% atau level pengangguran tertinggi Amerika selama 26 tahun ini. Perkembangan dari pelemahan sektor manufaktur akan menjadi tekanan bagi pertumbuhan lapangan kerja Amerika. Bilamana sektor ini terus menembus level terburuknya maka dollar akan semakin terpuruk terhadap mata uang mayor lainnya. 

Selasa, 24 November 2009

Peluang Komoditi dalam Pelemahan Dollar


Nilai tukar mata uang dollar Amerika terus bergerak melemah dalam jangka waktu beberapa tahun ini. Tren pelemahan berlanjut setelah kejatuhan pasar finansial Oktober 2008. Efeknya beberapa perusahaan raksasa Amerika mengalami kebangkrutan yang berimbas pada membengkaknya pengangguran.

Sektor keuangan juga tidak luput dari imbas krisis tersebut. Dow Jones Amerika tertekan ke level terendah di 6.469.95, sedangkan S&P 500 tertekan ke level 666.79, begitu juga dengan Nasdaq yang tertekan ke level 1.265.95. 
Demikian juga dengan permasalahan akan membengkaknya defisit perdagangan Amerika yang menjadi momok tersendiri. Laporan terakhir mencatatkan defisit perdagangan kembali membengkak ke level terburuknya di level $176.36 milyar atau membengkak $20 milyar dari data terakhir. Data tersebut lebih buruk dari perkiraan analis keuangan yang sebelumnya memprediksi defisit hanya akan berada di level $175 milyar. 
Untuk tetap mempertahankan dan menjaga agar sector riil tetap bergerak maka US Fed (Bank Sentral Amerika) mengambil jalan untuk menurunkan tingkat suku bunganya. Hal ini dilakukan agar tidak banyak dana masyarakat yang dialihkan ke sektor keuangan untuk menghindari ketidaksiapan dana masyarakat bila terjadi krisis keuangan. Suku bunga Amerika dalam beberapa bulan ini dipertahankan di level terendahnya 0-0.25%. Keputusan yang diambil oleh pihak US Fed tersebut dilakukan juga ditengah belum kuatnya kepastian krisis keuangan ini akan berakhir. Hal ini secara langsung melemahkan kekuatan dollar terhadap mata uang utama lainnya sebagai efek dari pemindahan investasi asset berdenominasi dollar ke instrument keuangan ataupun asset keuangan yang menawarkan imbal balik yang lebih tinggi.
Yang terjadi di pasar adalah semakin maraknya “US dollar carry trade” atau aksi peminjaman dollar Amerika dengan beban suku bunga rendah. Kemudian menempatkan investasi keuangan di mata uang atau komoditi lain yang menawarkan tingkat imbal balik yang jauh lebih tinggi. Saat ini yang menjadi target penempatan asset keuangan adalah di area Asia Pasific dimana kebanyakan negara menawarkan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari Amerika. Indonesia dengan 6.5% dan Australia dengan 3.5% menjadikan selisih yang cukup besar dibandingkan 0.25%. 
Sebagai contoh investor dapat meminjam dollar Amerika kemudian menempatkan asset di instrument investasi Indonesia. Dengan perbedaan selisih 6-7% dengan suku bunga Amerika serta dengan tingkat pengembalian obligasi pemerintah Indonesia yang ditawarkan 9% menjadi sebuah ketertarikan tersendiri. 

Peluang menguatnya komoditi 
Pilihan untuk mempertahankan pelemahan dollar Amerika nampaknya sebuah pilihan yang diambil oleh Amerika demi menjaga tetap tumbuhnya sector ekspor. Terlebih ancaman inflasi bukan merupakan sebuah focus pada saat pemulihan ekonomi.
Dalam tren pelemahan dollar saat ini, investor tetap mempunyai peluang dalam memanfaatkan euphoria yang ada. Aksi pemindahan asset dengan ekspektasi imbal balik yang lebih tinggi dan asset yang dinilai lebih aman dari tekanan inflasi ini menjadi pemicu dari penguatan sector komoditi seperti emas, minyak, dan perak. Seperti pada artikel penulis minggu lalu tentang penguatan emas yang diprediksi menguat ke level US$1.139.50 per ounce. Pada minggu lalu emas berjangka ditutup di level US$1.152.50 per ounce. Tren pergerakan emas ini diestimasikan bertarget di US$1.250.40 per ounce. Kemungkinan koreksi akan berada di level US$1.105.40 per ounce. Sama halnya dengan minyak yang masih mempunyai kekuatan untuk kembali menembus level US$80 per barrel. Level US$78 per barrel masih menjadi range perdagangan yang kuat. Namun bila level psikologis US$80 per barrel tertembus, maka akan semakin membuka peluang penguatan.

Selasa, 17 November 2009

Korelasi Penguatan Minyak dan Emas



Titik tertinggi level harga kontrak minyak berjangka tercapai di bulan Juni 2008 di level US$147.25 per barrel (1 barrel=158.987295 liter), sedangkan emas kontrak berjangka di bulan tersebut berada di level US$967.40 per ounce (1 ounce=31.103gram).

Secara umum perkembangan harga minyak sangat dipengaruhi laju inflasi yang sangat mempengaruhi laju ekonomi; seperti yang terjadi di Amerika sebagai salah satu negara konsumen minyak terbesar di dunia. Amerika membutuhkan hampir 25% dari hasil minyak dunia. Di lain sisi penguasaan asset minyak mentah Amerika hanya berada pada level 2%. Oleh sebab itu dengan tingkat kebutuhan konsumsi minyak bagi rumah tangga, pabrik dan kebutuhan militer yang besar menyebabkan tingkat ekonomi Amerika sangat rentan dengan perkembangan harga minyak mentah. Efek negative yang diterima Amerika dibandingkan dengan negara lain akan lebih besar ketika pasokan minyak yang berkurang seiiring dengan melonjaknya harga minyak 

Menurut artikel zeal LLC dari tahun 1965 ke 1994 terdapat korelasi yang cukup kuat antara minyak dan emas yang berada pada +0.879. Namun pada tahun 1985 sampai 2000 level korelasi tersebut terlihat memudar ke level -0.1333. Dan sejak tahun 2000 yang lalu, nilai korelasi tersebut menguat ke level +0.715. 
Harga minyak mulai meningkat dari level US$20 ke US$50an per barrel pada tahun 2004. Semenjak itu harga minyak mentah terus pada tren penguatan sampai menyentuh level tertingginya di tahun 2008 pada level US$147.25 per barrel. Hal yang sama dengan pergerakan emas yang memulai range harga di kisaran US$300 per ounce di tahun 2004 yang kemudian pada tahun-tahun berikutnya melambung menyentuh kisaran level US$1000 per ounce. 
Seiiring dengan kekhawatiran akan kembali melambungnya harga minyak mentah, kemudian OPEC sempat menetapkan harga minyak untuk terstandarkan di level US$70 per barrel. Namun level tersebut masih saja tertembus di tengah semakin meningkatnya jumlah kebutuhan dan permintaan minyak. Produksi minyak mentah menurun ditengah krisis geopolitik dan keamanan yang terjadi di Nigeria dan Iran sebagai pemasok minyak. 
Beberapa analisa menyebutkan kemungkinan besar bagi minyak untuk terus menguat level ke psikologis di US$100 per barrel. Ancaman akan hambatan tingkat produksi dimusim dingin akhir tahun masih membuat kemungkinan akan terhambatnya tingkat produksi minyak mentah Amerika. 
Di lain pihak kekuatan dollar Amerika semakin melemah seiiring dengan tekanan krisis financial, defisit keuangan, dan tingginya tingkat pengangguran yang mencapai 10.2% sebagai level tertinggi dalam 26 tahun ini. Pola pelemahan dollar ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi negara-negara produsen minyak mentah. Arab Saudi dan Kuwait mulai memilih untuk mendiversifikasi perdagangan minyak dalam bentuk euro daripada dollar Amerika dengan pertimbangan kestabilan dan resiko aset.
Dengan berlanjutnya pelemahan dollar maka tidak menutup kemungkinan bagi Cina, Jepang dan beberapa negara asia lainnya untuk mendiversifikasi aset ke dalam bentuk euro dan emas yang dinilai mempunyai ketahanan akan inflasi. Sebuah factor penguat kemungkinan emas akan kembali meningkat.
Fakta yang ada memperlihatkan minyak mempunyai korelasi yang kuat dengan harga emas dimana minyak mempunyai efek yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi dan perkembangan pasar keuangan. Di lain pihak emas menjadi “safe haven” atau asset yang dinilai tahan akan tekanan inflasi dan pelemahan dollar yang disebabkan oleh meningkatnya harga minyak.
Kenaikan yang terjadi level US$81.97 per barrel masih mempunyai peluang untuk kembali tertembus dengan estimasi target US$85-89 per barrel bila dalam beberapa hari ke depan data produksi minyak memburuk. Sedangkan level harga emas yang menyentuh US$1.130an per ounce mempunyai peluang terus menguat ke level US$1.250 per ounce.

Selasa, 10 November 2009

Ancang-ancang Meroketnya Emas



Dalam beberapa bulan ini rally harga emas yang didukung oleh fakta tekanan data ekonomi yang seolah-oleh mengkonfirmasi kenaikan harga emas. Hal ini jelas merupakan faktor positif dalam kemungkinan kenaikan harga emas dalam jangka waktu menengah dan panjang.
Pada sesi perdagangan Jumat, 6 November yang lalu level harga kontrak berjangka emas menembus level tertinggi sepanjang masa dengan menyentuh harga di US$1.100.70 per ounce (1 ounce=31.103gram).

Level kontrak harga emas berjangka pada tahun ini telah mengalami kenaikan 37.26% dari level terendahnya awal tahun di US$ 801.90 per ounce. Grafik pergerakan emas terlihat trend kenaikan yang cukup kuat pada tahun ini di tengah ketidakpastian pasar akan pemulihan ekonomi sejak krisis financial tahun lalu. 

Rekor harga emas yang tercapai Jumat lalu tidak lain adalah factor aksi borong pasar akan respon data ekonomi yang ada. Respon terhadap pelemahan nilai tukar dollar yang menjadi factor utama dimana investor cenderung mencari sarana investasi yang dinilai aman dari gejolak laju inflasi. Inflasi sendiri dikhawatirkan akan mulai meningkat pada kuartalan pertama 2010. 
Dirilisnya data sektor tenaga kerja Amerika Jumat lalu dinilai telah menembus level kewajaran. Tingkat pengangguran di Amerika membengkak ke level tertinggi selama 26 tahun sebesar 9.8% pada September lalu dan rilisan data October berada pada level kronis 10.2% pada akhir tahun ini. Hal ini menjadi acuan penilaian pasar akan kegagalan pemerintahan Obama untuk meregulasi dan mengefektifkan dana stimulus yang ada. Sebuah sinyal akan masih rentannya pemulihan ekonomi Amerika.
Suku bunga Amerika yang dipertahankan pada level 0-0,25% terlihat sebagai pola kebijakan Bank Sentral Amerika yang masih hati-hati dalam menyatakan ketegasan krisis finansial telah berakhir atau belum. Hal ini secara langsung melemahkan kekuatan dollar terhadap mata uang utama lainnya sebagai efek dari pemindahan investasi asset berdenominasi dollar ke instrument keuangan ataupun asset keuangan yang menawarkan imbal balik yang lebih tinggi.
Selain itu tembusnya level tertinggi emas juga dipicu oleh aksi bank sentral India yang membeli asset 200 ton emas dari IMF (International Monetary Fund) yang merupakan sebagian aksi dari rencana penjualan 403.3 ton emas IMF pada akhir tahun ini. Aksi Bank Sentral ini adalah kebijakan untuk mendiversifikasi asetnya ke bentuk lain selain dollar yang dinilai rentan akan pelemahan dan tekanan inflasi. Lain halnya dengan emas yang bergerak searah dengan laju inflasi. 
Langkah yang diambil oleh India untuk mengubah portofolio asset cadangan devisanya dari dollar AS ke emas menjadikan India sebagai negara nomer urut kesembilan dari 10 besar negara pemegang emas terbesar sebagai cadangan keuangannya di dunia. Aksi India ini diprediksi akan diikuti oleh Chinna, Rusia dan beberapa negara Asia lainnya.
Kenaikan level harga emas yang menembus di US$1.100.70 per ounce masih akan membuka peluang yang cukup untuk kembali mencoba kembali menyentuh harga tertinggi baru. Dengan memperhatikan aksi perubahan asset keuangan dari dollar ke emas oleh negara-negara besar beberapa waktu ini serta tekanan yang dihadapi oleh dollar Amerika maka emas masih mempunyai peluang jangka menengah dan panjang untuk bullish / menguat. Tren pergerakan emas beberapa minggu ini diestimasikan bertarget di US$1.139.50 per ounce. Selain itu yang perlu diperhatikan pasar adalah level harga komoditi (emas, minyak, perak, dll) yang juga mempunyai kecenderungan menguat pada akhir tahun yang merupakan efek berantai dari keterbatasan produksi minyak akibat musim dingin November-Desember.

Senin, 02 November 2009

Arah Kekuatan Dollar Penghujung Tahun



“The world is changing, and the dollar is losing its status. If you have a 5- year or 10-year view about the dollar, it should be for a weaker currency.” Kurang lebih sekitar 58 hari lagi penghujung tahun 2009 akan segera dilewati. Bagaimana dollar Amerika akan menutup buku pada tahun ini.
Dollar, mata uang yang telah menjadi currency global dalam beberapa dekade terlihat sempoyongan menghadapi arus pelemahan sektor financial dan kekuatan mata uang lainnya.

Sebesar 38 persen dari asset keuangan Amerika mengalami penurunan dari tingkat 63 persen tingkat rata-ratanya sejak tahun 1999. Kekuatan mata uang dollar Amerikapun terlihat melemah secara signifikan sejak kebijakan keuangan yang diambil oleh pemerintah Amerika untuk menjual obligasinya guna membiayai deficit keuangan yang terus-menerus membengkak sebesar 1.4 milyar dollar Amerika pada anggaran 2009 ini. 

Analisa Standard and Poors akan kemungkinan penurunan tingkat hutang dan defisit dari keuangan Amerika nampaknya tidak mengubah sentiment negative akan dollar. Fakta memperlihatkan beberapa negara mulai memindahkan cadangan devisanya dalam bentuk selain dollar Amerika. Di awal tahun 2009 sekitar 47,5 persen asset dari Bank Sentral Rusia telah didasarkan pada Euro, sedangkan lainnya terdiri atas 41,5 persen berbasis pada dollar Amerika. Situasi ini sama sekali berbeda pada awal tahun sebelumnya dimana 47 persen dari investasi yang dicadangkan dalam dolar AS, sementara investasi berada 42 persen. Selebihnya pemerintah Rusia menempatkan cadangan keuangannya dalam bentuk poundsterling Inggris, yen Jepang dan Swiss Franc. Kebijakan tersebut dimulai juga pada awal Oktober 2008 lalu ketika krisis finansial mulai menggoncangkan sektor financial yang bersumber dari kegagalan sector kredit serta dipicu oleh mulai meningkatnya harga minyak dari 50 dollar per barrel hingga menyentuh harga tertingginya di 147.37 dollar per barrel.
Poundsterling juga sempat menjadi currency kedua yang diminati selain dollar Amerika. Namun hal kekuatan poundsterling tidak dapat bertahan lama sejak beberapa kebijakan luar negeri Inggris yang kurang begitu berdampak baik bagi sentiment pasar. Tidak menutup kemungkinan hal ini dapat juga terjadi pada dollar Amerika. Faktor dari semakin membengkaknya defisit keuangan pada masa pemerintahan Bush dan kegagalan kredit yang terus menerus melemahkan posisi perekonomian Amerika. Hal ini juga masih nampak berpengaruh kuat pada masa pemerintahan Obama ini. Berbagai argument dan analisa akan kemungkinan mata uang alternatif yang dinilai cukup stabil yang menggantikan dollar Amerikapun kian muncul di permukaan. 
Fokus pasar tertuju pada outlook suku bunga bank sentral Amerika setelah dalam beberapa pertemuannya the Fed mempertahankan suku bunganya pada level 0.25 persen atau mendekati level nol persen. Terlebih setelah traumatic pasar setelah kegagalan kredit yang sempat membawa kerontokan dari Wallstreet dan mempailitkan perusahaan-perusahaan raksasa Amerika.
Walaupun beberapa pejabat bank sentral Amerika menyatakan keoptimisan akan kembali pulihnya ekonomi Amerika, nampaknya pasar belum begitu menaruh kepercayaan di asset berbasis dollar Amerika. Indikasi telah ekonomi Amerika dari resesi terdalam sejak great depression tahun 1930-an yang dibuktikan dengan meningkatnya serangkaian data fundamental ekonomi Amerika nampaknya tidak cukup untuk meyakinkan investor terhadap outlook suku bunga the Fed. Dari beberapa pertemuan terakhir juga the FED juga tidak menampilkan pernyataan yang kuat akan pulihnya ekonomi Negara paman Sam tersebut. 
Rilisan beberapa data ekonomi Amerika terlihat membaik, namun data yang masih dalam level yang mengkhawatirkan adalah sector tenaga kerja; tingkat pengangguran di Amerika membengkak ke level tertinggi selama 26 tahun sebesar 9.8% dan diperkirakan akan menyentuh angka 10% pada akhir tahun ini. Membengkaknya pengangguran tidak lain adalah efek rantai dari banyak perusahaan yang mengalami kegagalan akibat krisis kredit yang lampau. Data ini merupakan salah satu data sensitif yang akan menjadi tolak ukur penilaian pasar terhadap kekuatan ekonomi Amerika.

Dollar versus risk appetite
Akibat dari keputusan FED yang tetap mempertahankan level suku bunganya di level rendah tersebut akan semakin memperbesar kemungkinan dari aliran investasi keuangan Amerika yang kemudian dialihkan ke asset-aset atau mata uang yang mempunyai imbal balik yang lebih tinggi. Berkembangnya outlook pemulihan ekonomi global semakin meningkatkan minat investor terhadap perdagangan beresiko. Kembali menguatnya indeks Wall Street yang menguat ditopang oleh optimisme terhadap laporan keuntungan kuartal ketiga perusahaan-perusahaan Amerika menjadi gambaran akan pengalihan dari investasi risk aversion ke risk appetite seperti saham dan komoditi.
Contoh mudah adalah perbedaan imbal hasil Surat Hutang Negara (SUN) domestik Indonesia dan US Treasury yang masih merupakan imbal hasil tertinggi di kawasan Asia. Juga spread US rate dan suku bunga Indonesia misalnya yang berada di atas 5 persen menjadi alasan investor mengalihkan asset keuangannya dari dollar.
Beberapa analisa menggambarkan kemungkinan pelemahan dollar akan mengalami rebound bilamana Fed mulai menghentikan suku bunga yang mendekati 0 persennya. Seperti terlihat pada tahun 1990an, Investor sempat menghindari asset yang berbasis dollar Amerika. Ketika itu dolar Amerika terjungkal melemah ke level terendahnya sejak pasca perang dunia II di 79.75 terhadap Yen di April 19, 1995 di tengah perhatian pasar akan kebijakan FED yang tidak segera menaikkan suku bunga di tengah meningkatnya inflasi saat itu. 
Level harga minyak yang berada di new high 81.48 dollar per barrel menjadi tekanan tersendiri, bahkan dengan emas yang berada di 1070.50 dollar per troy ounce akan menjadi factor penekan terhadap dollar Amer. 
Dan inilah yang akan menjadi tantangan bagi pemerintahan Obama dalam mempertahankan kekuatan ekonomi Amerika pada penghujung tahun ini. Terlebih mengingat kebiasaan pola level harga minyak yang menguat di masa musim dingin akhir tahun yang akikaan berefek rantai bagi kontraksi dollar, maka tidak menutup kemungkinan dollar Amerika akan semakin terpuruk terhadap beberapa mata uang mayor lainnya.

Selasa, 27 Oktober 2009

Outlook Ekonomi Indonesia Pasca Pelantikan KIB II


Kabinet Indonesia Bersatu jilid II telah dilantik. Berbagai persiapan telah dilakukan demi mendukung laju kinerja yang maksimal dan efektif. Terlebih mengingat tantangan yang besar yang harus dihadapi oleh jajaran pemerintahan yang baru ini. Baik didalamnya menyangkut tantangan internal maupun tantangan eksternal yang mau tidak mau harus dihadapi.

Kemampuan Indonesia untuk dapat bertahan pada masa krisis financial yang lalu patut disyukuri. Hal itu adalah sumbangan yang baik dari kinerja pemerintahan yang lalu. Krisis financial lalu yang sempat menekan pasar. Bulan Desember 2008 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 1.355,4,terpangkas hampir separuhnya dari level pada awal tahun 2008 sebesar 2.627,3, hal ini terjadi diiringi oleh jatuhnya nilai kapitalisasi pasar dan penurunan tajam volume perdagangan saham. 
Bahkan yang terjadi arus keluar kepemilikan asing di saham, surat utang Negara (SUN), maupun SBI berlangsung cukup panjang pada masa itu. Hingga akhir Desember 2008, posisi asing di SUN tercatat Rp.87,4 triliun, menurun dibandingkan posisi September 2008 yang sempat mencapai Rp104,3 triliun. Sementara posisi asing di SBI tercatat Rp.8,4 triliun, menurun tajam dibandingkan posisi Agustus 2008 sebesar Rp.68,4 triliun. Demikian catatan Bank Indonesia. 
Pada masa itu juga rupiah sempat menyentuh level terlemah 2009 di harga 12.150 terhadap dollar AS pada 2 Maret 2009. Namun pola ekonomi Indonesia yang cukup berfokus pada sector riil serta system perbankan Indonesia yang relative kuat unutk menghadapi krisis terbukti mampu bertahan dalam badai financial tersebut. Yang menarik adalah data Biro Pusat Statistik (BPS) yang mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2009 mengalami peningkatan jadi 6,39%. Fakta kenaikan dari pertumbuhan ekonomi yang kuartal pertama yang berada pada level 6.32%. Bahkan Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI di 2009 menjadi 4,3% dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 3,4%. Dalam proyeksinya, bank Indonesia juga menaikkan tingkat pertumbuhan Indonesia dari 3% menjadi 4,5%. Belum lagi bila kita melihat IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan diatas level 2500 per Oktober 2009. Sebuah fenomena yang cukup menggambarkan kepercayaan asing akan iklim investasi Indonesia.

Kabinet Indonesia Bersatu II
Memang masih cukup banyak prestasi yang cukup baik yang diberikan oleh Kabinet Indonesia Bersatu I. Dan sekarang dalam pemerintahannya yang baru, SBY, telah memutuskan pemilihan kabinet dan menteri yang akan membantu sekian banyak program kerja yang ada. Pasar saat ini masih mencermati tim ekonomi bentukan Presiden dan wakil Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Sambutan positif terhadap para menteri ekonomi dan menilai layak untuk membantu presiden SBY, karena sudah dikenal pasar dan diketahui rekam jejaknya. Terutama dengan kembali terpilihnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan dan Mari Elka Pangestu sebagai Menteri Perdagangan. Keduanya dipandang cukup berhasil dalam memimpin departemennya sehingga layak terpilih kembali.
Lalu bagaimana dengan Hatta Radjasa yang dipercaya oleh SBY untuk menjadi Menteri Koordinator Perekonomian. Sebagian pasar beranggapan Hatta kurang cocok bila ditempatkan diposisi tersebut mengingat latar belakang Hatta bukan dalam hal perekonomian. Tugas Menko yang melakukan koordinasi baik Undang-Undang dan sinkronisasi di bidang ekonomi, memastikan betul sektor riil bergerak, sektor makro sudah baik. Selain itu harus memastikan harmonisasi dan koordinasi fungsi. Yang menjadi focus kinerja Menko adalah masalah pertumbuhan ekonomi, pangan, energi, revitalisasi industri, transportasi serta upaya mendorong sektor UKM dan jasa. Namun dalam track recordnya sebagai Mensesneg, Hatta terkenal cukup piawai dalam melakukan lobi-lobi dan pengkoordinasian yang efesien dalam pemerintahan. Hal ini akan menjadi modal yang baik dan positif bagi pelaksanaan sekian banyak program ekonomi Indonesia. Di tengah polemik yang ada mengenai penunjukan Hatta sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta menanggapinya dengan sikap yang optimis akan kemampuan kinerjanya dalam memimpin tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu II sehingga dapat berjalan dengan maksimal. Track record yang cukup baik Hatta selama menjabat di Mensesneg patut menjadi tolak ukur positif bagi kesempatan posisi di bidang ekonomi sekarang ini. Hatta mempunyai optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 7%. Kisaran pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang disampaikan Kamar Dagang Indonesia merupakan kisaran yang dapat dijangkau bilamana dilakukan sebuah kerja keras dan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
Pasar mengharapkan iklim investasi dapat ditingkatkan lebih baik lagi sehingga investor asing kembali tertarik ke Indonesia. Dalam jabatannya ini, Hatta akan memperhatikan masalah investasi dan juga sektor finansial untuk menjaga nilai tukar serta menguatkan pasar modal. Perhatian juga pada sektor riil juga sehingga bisa mempercepat perkembangan infrastruktur di Indonesia. Hal ini dengan tujuan agar tingkat pertumbuhan ekonomi 2014 dapat tercapai terutama dengan naiknya kenyamanan investasi asing di Indonesia.
S ekarang pasar menunggu kinerja serta pelaksanaan program yang akan dilaksanakan oleh KIB II ini yang diharapkan akan terlihat efeknya pada masa pemerintahan 100 hari kedepan. Apakah prestasi kabinet yang lalu dapat terkejar oleh kabinet ini atau malah mencatatkan nilai merah dalam laporannya.

Rupiah??
Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin pagi terlihat menguat 50 poin menjadi Rp9.425-Rp9.435 per dolar dibanding penutupan jumat lalu Rp9.480-Rp9.495. Peluang rupiah masih bisa menanjak ke 9.200-9.300 per dolar AS. Hal ini dapat terjadi bilamana faktor positif dari eksternal maupun internal cukup besar terlebih respon pasar terhadap program kerja Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) kedua dalam upaya menyambut pertumbuhan ekonomi global yang makin membaik. Jika tertekan melemah pergerakan akan berada pada range 9500-10.000 per dollar AS.

Selasa, 20 Oktober 2009




Dalam beberapa waktu terakhir ini nilai tukar mata uang rupiah terpantau menunjukkan penguatan yang cukup signifikan khususnya terhadap US dollar. Sampai dengan perdagangan di hari Jumat, 16 Oktober, rupiah tercatat dikisaran 9.330 terhadap US dollar. Dari catatan yang ada, rupiah telah bergerak menguat 17 persen dalam tahun ini.
Optimisme pasar terhadap pemulihan ekonomi global memicu tergerusnya posisi dolar AS sebagai safe haven currency. Di saat yang sama juga dollar Amerikapun juga ikut tertekan dengan meningkatnya harga minyak yang kembali menembus level harga patokan dari OPEC yang berada pada level $70 per barrel. Beberapa hari perdagangan ini, minyak mencatatkan level harga $79.05 per barrel.

Beberapa komoditi juga mengalami kenaikan seperti kenaikan mencolok pada emas yang berhasil menembus level psikologis $1000 per trouy ounce dengan mencatatkan level di $1061.10 per trouy ounce. Fakta emas adalah salah satu instrumen yang diburu saat kondisi ekonomi memburuk untuk mengamankan investasi karena harganya cenderung stabil atau menjadi instrumen hedging atau lindung nilai kala ekonomi membaik untuk melindungi investasi dari lonjakan inflasi. 

Bisa dikatakan performa dari dollar Amerika sedang dalam kondisi yang kurang baik dengan tertekannya dari banyak sisi. Bahkan dengan komentar Bernanke yang menyatakan kepositifan terhadap pemulihan ekonomi ini, nampaknya semakin memperbesar kemungkinan akan kembali dinaikkannya suku bunga Amerika. Pada fakta yang bersamaan, pola pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi yang terbaiknya. Seperti keyakinan yang ditampilkan oleh pemerintah Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus berjalan baik. Hal ini seperti yang terlihat dalam indikator pertumbuhan investasi dan daya daya beli masyarakat yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi kian merambat naik.
Beberapa waktu yang lalu, Biro Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua mengalami peningkatan menjadi 6,39%. Hal ini merupakan fakta kenaikan dari pertumbuhan ekonomi yang kuartal pertama yang berada pada level 6.32%. Sentimen positif juga mencuat setelah Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI di 2009 menjadi 4,3% dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 3,4%, seiring dengan makin membaiknya perekonomian dunia pasca krisis ekonomi global. 
Beberapa data serta pernyataan yang dikeluarkan oleh otoritas keuangan menaikkan sentimen positif dari meningkatnya aura positif kekuatan ekonomi Indonesia. Sikap Bank Indonesia yang menaikkan tingkat pertumbuhan Indonesia dari sekitar 3% menjadi 4,5% juga terlihat berimbas positif.
Faktor pendorong penguatan rupiah ini juga tidak lain adalah arus modal asing yang masuk ke Indonesia untuk mencari tempat investasi yang memiliki return atau pengembalian yang tinggi. Indonesia dipandang sebagai tempat yang paling menguntungkan bersandar pada perbedaan tingkat bunga acuan the Fed yang berada di bawah 2 persen. Di lain pihak tingkat acuan BI dalam kisaran 6-7% sehingga dengan spread atau marjin 4-5% persen sangatlah menjanjikan. Naiknya IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan diatas level 2500 per Oktober 2009 ini juga menggambarkan besarnya arus dana asing yang masuk di Indonesia.
Selain itu faktor internal lainnya yang mendukung penguatan rupiah adalah naiknya peringkat utang Indonesia oleh Moody's Investors Service. Hal ini semakin menaikkan daya tarik untuk membeli obligasi yang dikeluarkan pemerintah. Selain itu yang menjadi perhatian hangat dari investor luar terutama adalah naiknya tingkat keyakinan keamanan dan ketertiban Indonesia setelah terbunuhnya gembong teroris Noordin M. Top dan beberapa sindikatnya yang tidak dapat dipungkiri meniupkan angin sejuk di iklim investasi.
Yang lebih hangat lagi adalah rupiah yang juga terangkat oleh sentimen baik yang dihembuskan oleh harapan akan kabinet pemerintahan yang baru. Penulis memperkirakan kemungkinan puncaknya akan terjadi pada 21 Oktober terutama jika kabinet baru terbentuk dengan dinilai kuat dan positif bagi perekonomian Indonesia. Peluang rupiah masih bisa menanjak ke 9.200-9.300 per dolar AS. Kemungkinan rupiah masih mempunyai peluang untuk menguat sampai 9.000 bahkan 8.900 per dolar AS. Jika tertekan melemah pergerakan akan berada pada range 9500-10.000 per dollar AS.

Selasa, 29 September 2009

Ekspektasi G-20 Pittsburgh akan percepatan pemulihan ekonomi


Sesi minggu lalu telah dilangsungkan pertemuan puncak 20 negara ekonomi terkemuka (G20) dimana terdapat persetujuan untuk memberdayakan negara-negara berkembang di dunia dan mendorong pemulihan yang berkelanjutan di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Berkaitan dengan tanggapan forum G-20 dalam sesi pemulihan resesi ekonomi ini, beberapa poin kesepakatan menajdi hal yang menarik untuk di telusuri lebih lanjut terutama berkaitan dengan tekad para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam G-20 memerangi krisis finansial dengan memperkuat sistem perbankan dan perekonomian global.
Selama pertemuan yang berlangsung pada 24-25 September itu, para pemimpin ekonomi dunia sepakat menyusun tingkat kerjasama yang lebih erat dan mantap dalam menuju pertumbuhan yang berkelanjutan serta memperkuat peraturan perbankan. Disebutkan, di akhir tahun 2010, negara-negara akan setuju pada aturan-aturan yang bertujuan meningkatkan "kuantitas dan kualitas" modal bank dan mengecilkan pengambilan risiko berlebihan. Mereka juga menetapkan untuk memulai menegakkan aturan-aturan tersebut pada akhir tahun 2012. Hal tersebut terbaca pada salah satu poin yang ditetapkan dalam forum Pittsburgh yaitu “Kompensasi berlebihan bagi para eksekutif di sektor perbankan akan diakhiri karena mendorong risiko. G20 menentang jaminan bonus multi-tahun, mendesak transparansi yang lebih besar dan menyerukan Dewan Stabilitas Keuangan G20 untuk mengusulkan langkah-langkah baru pada Maret 2010.” Selain pembahasan pada penentuan kompensasi berlebih pada eksekutif perbankan tersebut juga diungkit bahwa G20 akan membuat pentahapan peraturan baru untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas modal bank, yang dipandang sebagai kekurangan utama dalam krisis ekonomi global. Dalam masa krisis yang lalu industri perbankan menelan kerugian US$ 1,6 triliun, namun bertekad menghindari pemberian bonus dan kompensasi besar-besaran yang sebelumnya diberikan selama bertahun-tahun kepada para petinggi bank. G20 menetapkan tujuan pengembangan aturan pada akhir tahun 2010 dan mengimplementasikannya pada akhir 2012.
Menurut Daniel Gurusinga, Head of Research and Education, PT. IMF bahwa 2 poin tersebut diatas memang sangat tepat untuk ditetapkan mengingat ketidaksiapan sektor perbankan dalam menghadapi setiap kemungkinan dalam goncangan ekonomi adalah salah satu faktor peledak krisis finansial yang lampau. Daniel Gurusinga mengingatkan kepada pembaca bahwa pemicu kuat krisis finansial Oktober 2008 lalu adalah pola kegagalan perusahaan finansial yang juga dipengaruhi oleh krisis kredit perumahan. Sebuah fenomena krisis yang notabene berhasil menggoncangkan perusahaan perbankan raksasa Amerikapun.
Dalam forum tersebut juga tersepakati untuk terus bekerja menstimulus pertumbuhan ekonomi dan menstabilkan sistem keuangan menyusul krisis finansial terburuk selama beberapa dasawarsa. Bertalian dengan maraknya kebijakan stimulus yang di kembangkan oleh pembuat kebijakan moneter. Sebagai contoh pada awal tahun ini, Amerika meluncurkan program paket stimulus senilai $787 milyar, hanya dampak positif belum dirasakan maksimal. Oleh sebab itu salah satu poin yang ada adalah G20 akan berkoordinasi untuk menemukan waktu yang tepat untuk mengurangi langkah-langkah stimulus sebagai bagian dari upaya untuk mengembalikan pertumbuhan dunia menjadi tinggi, berkelanjutan dan seimbang.
Selain itu hal menarik lainnya akan proyeksi G20, yang menyatukan negara-negara maju dan berkembang merupakan 90 persen dari ekonomi global, akan menggantikan Kelompok Delapan (G8) dari negara-negara kaya di dunia sebagai forum unggulan.
Sekarang tinggal menunggu pengimplementasian nyata dari komitmen G-20 apakah akan berimbas positif efektif bagi pemulihan ekonomi dunia.
Forum G-20 pada dewasa ini tampaknya telah menjadi forum bergengsi dunia sebagai tempat berhimpunnya kekuatan-kekuatan ekonomi dunia, seperti AS, Inggris, Jepang, dan Uni Eropa serta BRIC (Brazil, China, India dan Rusia) yang mewakili 85% GDP dunia dan 2/3 populasi dunia. Tergabungnya kekuatan ekonomi dunia ini menjadi sangat signifikan sejak dunia mengalami krisis finansial global Oktober tahun lalu. Hal tersebut mencuat setelah forum G-8 yang merupakan pengelompokan negara-negara industri maju dianggap tidak lagi relevan maka pada G-20 kini harapan masyarakat internasional dalam rangka perbaikan perekonomian dunia.

Selasa, 08 September 2009

Gold Most Wanted?


Pernahkah anda mendengar sesuatu yang “most wanted”? Langsung terbayang sesuatu yang dicari-cari dan menjadi sesuatu yang spesial. Pembahasan artikel kali ini melanjutkan artikel minggu lalu dimana emas yang diangkat menjadi topik tengah gencar dibicarakan.
Ditengah gelombang membaiknya laju perekonomian global ini yang menarik adalah perubahan pola masyarakat investasi yang cenderung Risk Appetite menjadi Risk Aversion.
Perlu diketahui Definisi Risk Aversion mengacu kepada kepada pola kebiasaan investasi yang lebih menghindari resiko. Seorang investor menghindari risiko dalam penambahan saham yang berisiko tinggi atau investasi portofolio. Investor mencari sisi invetasi yang "aman" umumnya akan tetap berpegang pada dana dan indeks obligasi pemerintah. Sedangkan definisi dari Risk Appetite adalah tipe investor yang berbanding terbalik. Tipe investor yang menyukai untuk berinvestasi pada sisi yang lebih beresiko seperti pada pada saham serta perdagangan futures. Hal ini dikarenakan kesiapan dari pola manajemen keuangan yang telah diatur sedemikian rupa sehingga bila terjadi kerugian maka aset aman dari investor tersebut tetap dapat bergerak.
Dalam pengamatan penulis, emas yang kembali bergerak ke level penguatannya dimana emas dapat menembus level tertinggi sejak bulan February yang lalu.
Emas yang dianggap sebagai save hafen commodity. Hal ini dikarenakan fakta emas adalah salah satu instrumen yang diburu saat kondisi ekonomi memburuk untuk mengamankan investasi karena harganya cenderung stabil atau menjadi instrumen hedging atau lindung nilai kala ekonomi membaik untuk melindungi investasi dari lonjakan inflasi.
Komoditas emas terlihat sangat mudah dipengaruhi oleh siklus ekonomi, contohnya saja kenaikan harga emas secara dramatis dari awal tahun ini, didasari oleh keyakinan recovery ekonomi berbentuk V, antisipasi inflasi yang disebabkan stimulus yang sedang gencar dikucurkan oleh The Fed (Bank Sentral AS), dan kebijakan suku bunga mendekati nol persen yang diadopsi oleh negara maju.
Selain itu siklus perubahan harga emas juga cukup dipengaruhi oleh siklus pola musiman, harga emas cenderung melemah di musim panas akibat lemahnya permintaan akan perhiasan. Permintaan perhiasan biasanya kembali meningkat di musim gugur, bersamaan dengan musim pernikahan di India, Ramadhan, Natal dan Tahun Baru China.
Bagaimana dengan tingkat suku bunga yang akan sangat berkorelasi dengan pergerakan emas? Dalam beberapa tahun ini, pembuat kebijakan moneter dunia lebih memilih untuk menurunkan serta mempertahankan level suku bunga pada level yang cukup rendah. Suku bunga Amerika misalnya yang dipertahankan pada level 0-0,25% terlihat pola kebijakan Bank Sentral Amerika yang masih hati-hati dalam menyatakan ketegasan krisis finansial telah berakhir atau belum. Di sisi lain pasar juga melihat fakta pergerakan perbaikan ekonomi global yang masih belum jelas. Beberapa waktu yang lalu diumumkan sektor tenaga kerja Amerika yang ternyata lebih buruk daripada perkiraan pasar. Dari data terakhir dilaporkan tingkat pengangguran Amerika yang memburuk dari level 9.4% yang diperkirakan hanya memburuk ke level 9.5% ternyata dirilis memburuk ke level 9.7%. Secara keseluruhan pasar masih melihat masih lemahnya sektor kekuatan ekonomi Amerika yang terwakili oleh “unemployment rate” yang memburuk. Pergerakan dolar terhadap mata uang mayor lainnya cenderung mengalami pelemahan yang merupakan insentif yang sangat baik bagi penguatan emas.
Penulis melihat kemungkinan yang lebih besar bagi emas untuk dapat terus bergerak pada level diatas $ 950 per troy ounce. Faktor pemicu pertama adalah minat pasar terhadap pasar komoditi yang masih tinggi. Emas menjadi “Most Wanted Commodity” untuk mengamankan keuangan dari gejolak finansial yang mungkin kembali timbul. Pasar juga melihat kemungkinan tipe recovery ekonomi tipe W dimana dimungkinkan ekonomi yang akan menghadapi jurang yang lebih dalam daripada krisis yang terjadi Oktober tahun lalu. Faktor kedua adalah kecenderungan pelemahan nilai tukar dollar yang menjadi triger penguatan bagi emas.
Peluang besar bagi emas untuk menembus level psikologisnya di level $1000 per troy ounce. Tinggal menunggu tertembusnya level $998.70 per troy ounce yang tercapai pada February yang lalu, diikuti dengan level tertinggi tahun ini di $1005.70 per troy ounce. Level psikologis menjadi begitu pentingnya sehingga bila terjadi manuver gejolak harga emas dapat kembali diperdagangkan di atas $1000 per troy ounce. Level support berada pada level 945.70 yang dapat tercapai bila terdapat koreksi tajam setelah kenaikan yang terjadi beberapa minggu ini.

Selasa, 25 Agustus 2009

Masih Akan Meningkatkah Emas?

Selama ribuan tahun, emas telah dinilai sebagai mata uang global, suatu komoditi, suatu investasi serta sebagai sarana subyek keindahan. Dalam beberapa tahun ini dimana terlihat rally harga emas yang berkelanjutan serta didukung oleh fakta bahwa pasokan melebihi permintaan secara konsisten, jelas merupakan faktor positif dalam kemungkinan kenaikan harga emas dalam jangka waktu menengah dan panjang.
Krisis ekonomi global yang mengguncangkan semua lini ekonomi dunia, tidak terhindarkan negara-negara besar yang notabene mempunyai cadangan keuangan yang lebih kuat daripada negara berkembang juga terkena dampaknya. Keadaan sedemikian rupa yang seakan-akan menyempitkan ruang investasi. Sebuah hal yang membuat setiap orang berpikir seribu kali dalam berinvestasi. Lain halnya ketika roda laju perekonomian dalam taraf yang sehat, tidak adanya gejolak keuangan maka pasar modal menjadi pilihan cepat untuk mengejar keuntungan. Tapi ketika resesi, (terlebih bila pembaca melihat fakta resesi yang baru-baru terjadi di awal Oktober 2008 yang lalu), saham tidak lagi menjadi pilihan yang tepat untuk investasi jangka panjang. Sekarang orang cenderung untuk beralih ke investasi yang lebih aman. Fakta yang ada, emas adalah salah satu instrumen yang diburu saat kondisi ekonomi memburuk untuk mengamankan investasi karena harganya cenderung stabil atau menjadi instrumen hedging atau lindung nilai kala ekonomi membaik untuk melindungi investasi dari lonjakan inflasi. Menurut penulis, berikut beberapa alasan mengapa emas adalah sarana investasi yang sangat baik. Seiring dengan berkembangnya waktu, emas telah mewakili sebuah investasi yang sangat baik yang memegang nilai riil. Bila kita analisa dengan cermat, emas dapat dikatakan selalu bergerak meningkat selama periode inflasi tinggi dan ketidakstabilan keuangan. Hal ini bagaikan analogi pasokan terbatas emas yang tidak dapat dicetak untuk membiayai defisit pengeluaran pemerintah.
Oleh sebab itu emas adalah sarana lindung nilai yang sangat baik terhadap inflasi dan deflasi atau keruntuhan keuangan.
Dalam beberapa bulan ini pergerakan emas dipengaruhi faktor-faktor besar antara lain penurunan nilai mata uang dollar AS, perubahan cadangan devisa, perubahan gaya investasi terhadap aset berisiko serta tidak, dan kekhawatiran pada inflasi.
Di sisi lain, the Fed akan tetap menjaga target untuk suku bunga di kisaran level 0 - 0.25% dan akan terus mengantisipasi kondisi ekonomi untuk menjamin bahwa tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral amerika ini akan bertahan dalam beberapa periode kedepan. The Fed juga menyatakan bahwa perekonomian amerika serikat sudah menunjukkan adanya tanda-tanda keluar dari fase terburuk krisis financial yang telah berlangsung dalam dua tahun terakhir. The Fed juga terlihat memperpanjang periode pembelian untuk treasury bond (surat hutang/obligasi negara) yang seharusnya berakhir September menjadi Oktober. Pandangan ekonomi the Fed cukup positif untuk pasar namun menyisakan sedikit keraguan melalui perubahan jadwal program pembelian obligasi the Fed.
Setelah pertemuan the Fed yang terakhir yang lalu, pergerakan emas merangkak naik di atas $950 per troy ons setelah sebelumnya sempat berada di level $940 per troy ons. Tingkat keoptimisan yang tinggi terhadap pemulihan ekonomi terlihat pada terdorongnya kembali transaksi yang mengandung resiko termasuk di komoditi.
Dari faktor ekonomi yang ada beberapa waktu ini, penulis melihat kemungkinan yang lebih besar bagi emas untuk dapat terus bergerak pada level diatas $ 900 per troy ounce. Faktor pemicu pertama adalah minat pasar terhadap pasar komoditi yang masih tinggi. Ditengah pemulihan ekonomi yang masih nampak abstrak ini emas masih punya kemungkinan besar untuk meningkat. Faktor kedua adalah kekuatan nilai tukar dollar Amerika yang belum mempunyai motor yang kuat untuk kembali menguat secara signifikan, terlebih dengan rendahnya tingkat suku bunga yang diputuskan oleh the Fed. Selain itu faktor kekhawatiran masyarakat akan meningkatnya kembali level inflasi juga menjadi faktor pendorong tersendiri bagi penguatan level emas.
Penulis melihat dari sisi fundamental emas masih memiliki peluang untuk kembali meningkat atau paling tidak bertahan di atas level $900 per troy ounce. Ketidakpastian arah perbaikan ekonomi, semakin meningkatnya optimisme pasar terhadap aset beresiko serta meningkatnya kekhawatiran akan inflasi serta peningkatan harga komoditas lainnya seperti minyak yang kembali meningkat ke level 70an dollar per barrel. Terlebih bilamana terjadi peningkatan suhu eksalasi politik maka peluang emas untuk kembali meningkat akan jauh lebih besar.

Selasa, 11 Agustus 2009

Outlook Suku Bunga the Fed di tengah arus recovery

Minggu ini otoritas kebijakan keuangan Amerika Serikat atau the Fed akan mengadakan pertemuannya dan mengumumkan kebijakan keuangannya, terutama yang berhubungan dengan keputusan akan tingkat suku bunga Amerika. Perlu diketahui ada saat ini tingkat US rate berada pada level 0.25%.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah tingkat suku bunga yang telah dipertahankan the Fed dalam beberapa bulan ini akan dinaikkan?
Beberapa fakta yang menjadi pertimbangan otoritas keuangan Amerika adalah masih adanya beberapa data ekonomi mayor Amerika yang dinilai masih dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Menteri Keuangan AS, Timothy Geithner mengungkapkan bahwa defisit perdagangan AS mencapai puncaknya sebesar 1 trilyun dollar AS atau 12% dari produk domestik bruto Amerika Serikat dalam jangka waktu sembilan bulan tahun anggaran 2009 ini. Hal ini juga merupakan kali pertamanya ini terjadi sehingga mengembangkan kemungkinan untuk dapat membengkak ke level 2 trilyun dollar AS. Fakta tersebut semakin memberikan kekhawatiran kekuatan ekonomi Amerika untuk bisa keluar dari krisis yang melanda Terlebih dengan adanya kemungkinan data ekonomi mayor seperti defisit anggaran Amerika yang diperkirakan mencapai sekitar 1.8 trillyun dollar AS atau sekitar 13% dari tingkat Pendapatan Bruto Amerika Serikat. Tingkat defisit yang membengkak tersebut disebabkan oleh karena kebutuhan yang besar yang diperlukan pemerintah AS untuk membiayai sejumlah kebutuhan dalam masa resesi. Kebutuhan tersebut juga membengkak dengan adanya kebijakan penurunan pajak oleh pemerintahan presiden Obama.
Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa defisit pada bulan Juni total 94,3 miliar dollar AS, mendorong kenaikan tingkat defisit sejak tahun anggaran dimulai pada bulan Oktober menjadi 1,09 triliun dollar AS. Terdapat perkiraan bahwa defisit untuk keseluruhan tahun dimungkinkan besar akan menyentuh level 1,84 triliun dollar AS pada bulan Oktober tahun ini. Perkiraan tersebut merupakan defisit terbesar sejak depresi besar di awal tahun 1940.
Membengkaknya level pengeluaran pemerintah Amerika memang dibutuhkan untuk menangani krisis keuangan global ini. Krisis keuangan yang terburuk sejak masa the Great Depression dan dimana juga terdapat tingkat pengangguran yang telah naik ke 9,5 persen.

Dalam kebijakannnya, pemerintah Amerika telah melakukan beberapa kebijakan menanggapi krisis yang terjadi. Kongres Amerika sudah menyetujui sebesar 700 miliar dollar dana stimulus untuk keuangan bank, automakers dan sektor lain, dan 787 miliar dollar paket rangsangan ekonomi untuk peningkatan laju roda perekonomian. Terlebih mengingat beberapa perusahaan raksasa Amerikapun mengalami kemunduran produksi bahkan beberapa diantaranya mengumumkan kebangkrutan.
Tingkat suku bunga Amerika dimulai sejak 18 September 2007, telah diturunkan levelnya dari 5.25% ke level 4.75%. Kebijakan cut rate tersebut juga terus dilanjutkan dalam beberapa pertemuan the Fed selanjutnya. Seiring dengan penilaian the Fed bahwa cut rate diperlukan demi menekan deflasi dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi Amerika. Sampai pada 16 Desember 2008 the Fed memutuskan untuk menurunkan level suku bunganya ke level 0.25%.
FOMC meeting atau pertemuan tingkat tinggi dari pejabat-pejabat bank sentral Amerika dimana the Fed akan mengadakan pertemuannya pada hari Selasa dan Rabu ini. Dan tepatnya pada Kamis dinihari akan mengumumkan hasil pertemuannya. Proyeksi terakhir diekspektasikan pasar bahwa the Fed untuk tetap mempertahankan level suku bunganya pada range 0.00% sampai 0.25%.
Baiknya data ekonomi dari sektor tenaga kerja yang dirilis pada minggu lalu juga telah meningkatkan spekulasi bahwa pembuat kebijakan moneter Amerika akan mulai mengetatkan kebijakan keuangannya pada awal tahun depan. Yang artinya adalah kemungkinan bagi the Fed untuk berfokus pada inflasi dan menaikkan tingkat suku bunganya.
Dari data tingkat tenaga kerja Amerika terdapat pemotongan hubungan kerja sebesar 247.000 tenaker pada bulan Juli berada di bawah perkiraan analis sebelumya. Tingkat pengangguran juga membaik kel level 9.4% dari 9.5%. Kedua berita positif tersebut menandakan adanya aktivitas ekonomi Amerika yang cukup stabil dan menunjukkan estimasi positif akan membaiknya masa resesi ekonomi.
Beberapa analis memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada pertemuan minggu ini, namun menurut penulis hal ini masih terlihat cukup prematur untuk diputuskan. Walaupun beberapa data ekonomi Amerika menunjukkan perbaikan dalam beberapa minggu ini, namun proses recovery ekonomi merupakan proses yang masih akan cukup panjang. Hal ini juga menilik pernyataan ketua Bank Sentral Amerika, Ben Bernanke, bahwa perekonomian Amerika masih rentan dan perlu menjadi perhatian bagi the Fed untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunganya.
Yang kemungkinan menjadi fokus perbaikan ekonomi Amerika akan beralih kepada stabilisasi ekonomi pada tingkat konsumen, hal ini disebabkan tingkat konsumen menyumbangkan dua pertiga dari tingkat ekonomi Amerika.