Selasa, 04 Mei 2010

Aussie, Ditengah Isu Kebijakan RBA Rate


Pergerakan mata uang mayor terhadap US$ masih dalam kondisi yang belum stabil. Kondisi pasar pada sesi perdagangan pekan lalu masih dipengaruhi oleh sikap pesimis pasar terhadap kondisi ekonomi paska krisis Yunani yang belum juga ditemukan solusi yang tepat. Proposal bantuan sebesar 45milyar Euro nampaknya masih akan membutuhkan dua kali lipatnya. Disamping itu para pelaku pasar juga dalam posisi wait and see jelang akan diadakannya pemilu Inggris 6 Mei yang akan datang.

Sementara itu fokus pasar disamping euro dan pundsterling adalah dollar Australia atau Aussie. Aussie dalam beberapa bulan ini menjadi sorotan pelaku pasar perdagangan karena rilis kebijakan suku bunganya yang naik berturut-turut dengan level terakhir di 4.25% 
Australia merupakan salah satu negara berkembang pertama yang menaikkan suku bunga acuan setelah industri keuangan dunia dihantam krisis yang menyeret sejumlah negara ke resesi. Kenaikkan suku bunga Australia yang terakhir terjadi pada februari 2010 dimana Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,25%. 
Menurut pernyataan Pejabat RBA, langkah menaikkan suku bunga ini dilakukan karena adanya kecenderungan semakin tumbuhnya pinjaman dan kembali normalnya tingkat inflasi. Kenaikan suku bunga Australia yang diumumkan pada Februari 2010 adalah merupakan yang kelima kalinya dilakukan sejak Oktober tahun 2009 lalu. RBA pertama kali menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin pada Oktober 2009 lalu.
Sementara itu dari data terbaru bahwa disesi awal kuartal kedua tahun 2010 ini sinyal kenaikkan RBA rate kembali diwacanakan oleh Gubernur RBA, Glenn Stevens, yang mengatakan bahwa data-data ekonomi saat ini terutama dari sektor data harga rumah yang sudah sangat tinggi sehingga mensinyalkan suku bunga perlu dinaikkan untuk menahan laju inflasi. RBA akan mengumumkan kebijakan suku bunganya Selasa, 4 Mei ini dengan perkiraan kembali menaikkan suku bunganya dari 4.25 ke 4.50%
Pada sesi akhir perdagangan bulan April, Aussie tertekan akibat kecemasan paket bantuan Uni Eropa untuk Yunani. Bantuan tersebut ditujukan agar tidak menyebarnya krisis defisit di kawasan zona eropa yang kemudian menurunkan permintaan untuk mata uang ber-yield tinggi. Aussie juga melemah setelah saham Asia turun disertai tekanan sesaat pada harga komoditas emas dan minyak. Namun sikap optimis terhadap pergerakan Aussie ditunjukkan oleh para pelaku perdagangan, para importir dan eksportir Australia. Aussie telah naik 27% terhadap US$ dalam 12 bulan terakhir. Disamping itu penguatan Aussie juga didukung ekspektasi berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter bank sentral dan juga kembali bergeraknya sektor komoditi terutama minyak dan emas sehingga support terhadap pergerakan Aussie karena notabene Australia merupakan negara dengan sumber utama devisanya dari sektor ekspor yaitu minyak dan emas.

Market Update
Aussie diperkirakan dalam awal pekan akan bergerak dalam territory positif. Aussie sempat sentuh level terendah untuk tahun 2010 dikisaran level 0.8577 dan level tertinggi dikisaran 0.9380. Sementara itu trend bullish tampaknya masih akan membayangi pergerakan Aussie dalam sepekan perdagangan kali ini dengan range trading dikisaran level 0.9400 - 0.9100 dan support level dikisaran 0.9185 dan resistance level dikisaran 0.9315.
Kembali bergeraknya komoditi dalam territory menguat dan rencana kembali rilisnya kebijakan RBA rate menjadi faktor penguat dari manuver pergerakan Australian dollar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar