Selasa, 27 Oktober 2009

Outlook Ekonomi Indonesia Pasca Pelantikan KIB II


Kabinet Indonesia Bersatu jilid II telah dilantik. Berbagai persiapan telah dilakukan demi mendukung laju kinerja yang maksimal dan efektif. Terlebih mengingat tantangan yang besar yang harus dihadapi oleh jajaran pemerintahan yang baru ini. Baik didalamnya menyangkut tantangan internal maupun tantangan eksternal yang mau tidak mau harus dihadapi.

Kemampuan Indonesia untuk dapat bertahan pada masa krisis financial yang lalu patut disyukuri. Hal itu adalah sumbangan yang baik dari kinerja pemerintahan yang lalu. Krisis financial lalu yang sempat menekan pasar. Bulan Desember 2008 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 1.355,4,terpangkas hampir separuhnya dari level pada awal tahun 2008 sebesar 2.627,3, hal ini terjadi diiringi oleh jatuhnya nilai kapitalisasi pasar dan penurunan tajam volume perdagangan saham. 
Bahkan yang terjadi arus keluar kepemilikan asing di saham, surat utang Negara (SUN), maupun SBI berlangsung cukup panjang pada masa itu. Hingga akhir Desember 2008, posisi asing di SUN tercatat Rp.87,4 triliun, menurun dibandingkan posisi September 2008 yang sempat mencapai Rp104,3 triliun. Sementara posisi asing di SBI tercatat Rp.8,4 triliun, menurun tajam dibandingkan posisi Agustus 2008 sebesar Rp.68,4 triliun. Demikian catatan Bank Indonesia. 
Pada masa itu juga rupiah sempat menyentuh level terlemah 2009 di harga 12.150 terhadap dollar AS pada 2 Maret 2009. Namun pola ekonomi Indonesia yang cukup berfokus pada sector riil serta system perbankan Indonesia yang relative kuat unutk menghadapi krisis terbukti mampu bertahan dalam badai financial tersebut. Yang menarik adalah data Biro Pusat Statistik (BPS) yang mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2009 mengalami peningkatan jadi 6,39%. Fakta kenaikan dari pertumbuhan ekonomi yang kuartal pertama yang berada pada level 6.32%. Bahkan Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI di 2009 menjadi 4,3% dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 3,4%. Dalam proyeksinya, bank Indonesia juga menaikkan tingkat pertumbuhan Indonesia dari 3% menjadi 4,5%. Belum lagi bila kita melihat IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan diatas level 2500 per Oktober 2009. Sebuah fenomena yang cukup menggambarkan kepercayaan asing akan iklim investasi Indonesia.

Kabinet Indonesia Bersatu II
Memang masih cukup banyak prestasi yang cukup baik yang diberikan oleh Kabinet Indonesia Bersatu I. Dan sekarang dalam pemerintahannya yang baru, SBY, telah memutuskan pemilihan kabinet dan menteri yang akan membantu sekian banyak program kerja yang ada. Pasar saat ini masih mencermati tim ekonomi bentukan Presiden dan wakil Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Sambutan positif terhadap para menteri ekonomi dan menilai layak untuk membantu presiden SBY, karena sudah dikenal pasar dan diketahui rekam jejaknya. Terutama dengan kembali terpilihnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan dan Mari Elka Pangestu sebagai Menteri Perdagangan. Keduanya dipandang cukup berhasil dalam memimpin departemennya sehingga layak terpilih kembali.
Lalu bagaimana dengan Hatta Radjasa yang dipercaya oleh SBY untuk menjadi Menteri Koordinator Perekonomian. Sebagian pasar beranggapan Hatta kurang cocok bila ditempatkan diposisi tersebut mengingat latar belakang Hatta bukan dalam hal perekonomian. Tugas Menko yang melakukan koordinasi baik Undang-Undang dan sinkronisasi di bidang ekonomi, memastikan betul sektor riil bergerak, sektor makro sudah baik. Selain itu harus memastikan harmonisasi dan koordinasi fungsi. Yang menjadi focus kinerja Menko adalah masalah pertumbuhan ekonomi, pangan, energi, revitalisasi industri, transportasi serta upaya mendorong sektor UKM dan jasa. Namun dalam track recordnya sebagai Mensesneg, Hatta terkenal cukup piawai dalam melakukan lobi-lobi dan pengkoordinasian yang efesien dalam pemerintahan. Hal ini akan menjadi modal yang baik dan positif bagi pelaksanaan sekian banyak program ekonomi Indonesia. Di tengah polemik yang ada mengenai penunjukan Hatta sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta menanggapinya dengan sikap yang optimis akan kemampuan kinerjanya dalam memimpin tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu II sehingga dapat berjalan dengan maksimal. Track record yang cukup baik Hatta selama menjabat di Mensesneg patut menjadi tolak ukur positif bagi kesempatan posisi di bidang ekonomi sekarang ini. Hatta mempunyai optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 7%. Kisaran pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang disampaikan Kamar Dagang Indonesia merupakan kisaran yang dapat dijangkau bilamana dilakukan sebuah kerja keras dan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
Pasar mengharapkan iklim investasi dapat ditingkatkan lebih baik lagi sehingga investor asing kembali tertarik ke Indonesia. Dalam jabatannya ini, Hatta akan memperhatikan masalah investasi dan juga sektor finansial untuk menjaga nilai tukar serta menguatkan pasar modal. Perhatian juga pada sektor riil juga sehingga bisa mempercepat perkembangan infrastruktur di Indonesia. Hal ini dengan tujuan agar tingkat pertumbuhan ekonomi 2014 dapat tercapai terutama dengan naiknya kenyamanan investasi asing di Indonesia.
S ekarang pasar menunggu kinerja serta pelaksanaan program yang akan dilaksanakan oleh KIB II ini yang diharapkan akan terlihat efeknya pada masa pemerintahan 100 hari kedepan. Apakah prestasi kabinet yang lalu dapat terkejar oleh kabinet ini atau malah mencatatkan nilai merah dalam laporannya.

Rupiah??
Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin pagi terlihat menguat 50 poin menjadi Rp9.425-Rp9.435 per dolar dibanding penutupan jumat lalu Rp9.480-Rp9.495. Peluang rupiah masih bisa menanjak ke 9.200-9.300 per dolar AS. Hal ini dapat terjadi bilamana faktor positif dari eksternal maupun internal cukup besar terlebih respon pasar terhadap program kerja Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) kedua dalam upaya menyambut pertumbuhan ekonomi global yang makin membaik. Jika tertekan melemah pergerakan akan berada pada range 9500-10.000 per dollar AS.

Selasa, 20 Oktober 2009




Dalam beberapa waktu terakhir ini nilai tukar mata uang rupiah terpantau menunjukkan penguatan yang cukup signifikan khususnya terhadap US dollar. Sampai dengan perdagangan di hari Jumat, 16 Oktober, rupiah tercatat dikisaran 9.330 terhadap US dollar. Dari catatan yang ada, rupiah telah bergerak menguat 17 persen dalam tahun ini.
Optimisme pasar terhadap pemulihan ekonomi global memicu tergerusnya posisi dolar AS sebagai safe haven currency. Di saat yang sama juga dollar Amerikapun juga ikut tertekan dengan meningkatnya harga minyak yang kembali menembus level harga patokan dari OPEC yang berada pada level $70 per barrel. Beberapa hari perdagangan ini, minyak mencatatkan level harga $79.05 per barrel.

Beberapa komoditi juga mengalami kenaikan seperti kenaikan mencolok pada emas yang berhasil menembus level psikologis $1000 per trouy ounce dengan mencatatkan level di $1061.10 per trouy ounce. Fakta emas adalah salah satu instrumen yang diburu saat kondisi ekonomi memburuk untuk mengamankan investasi karena harganya cenderung stabil atau menjadi instrumen hedging atau lindung nilai kala ekonomi membaik untuk melindungi investasi dari lonjakan inflasi. 

Bisa dikatakan performa dari dollar Amerika sedang dalam kondisi yang kurang baik dengan tertekannya dari banyak sisi. Bahkan dengan komentar Bernanke yang menyatakan kepositifan terhadap pemulihan ekonomi ini, nampaknya semakin memperbesar kemungkinan akan kembali dinaikkannya suku bunga Amerika. Pada fakta yang bersamaan, pola pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi yang terbaiknya. Seperti keyakinan yang ditampilkan oleh pemerintah Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus berjalan baik. Hal ini seperti yang terlihat dalam indikator pertumbuhan investasi dan daya daya beli masyarakat yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi kian merambat naik.
Beberapa waktu yang lalu, Biro Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua mengalami peningkatan menjadi 6,39%. Hal ini merupakan fakta kenaikan dari pertumbuhan ekonomi yang kuartal pertama yang berada pada level 6.32%. Sentimen positif juga mencuat setelah Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi RI di 2009 menjadi 4,3% dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 3,4%, seiring dengan makin membaiknya perekonomian dunia pasca krisis ekonomi global. 
Beberapa data serta pernyataan yang dikeluarkan oleh otoritas keuangan menaikkan sentimen positif dari meningkatnya aura positif kekuatan ekonomi Indonesia. Sikap Bank Indonesia yang menaikkan tingkat pertumbuhan Indonesia dari sekitar 3% menjadi 4,5% juga terlihat berimbas positif.
Faktor pendorong penguatan rupiah ini juga tidak lain adalah arus modal asing yang masuk ke Indonesia untuk mencari tempat investasi yang memiliki return atau pengembalian yang tinggi. Indonesia dipandang sebagai tempat yang paling menguntungkan bersandar pada perbedaan tingkat bunga acuan the Fed yang berada di bawah 2 persen. Di lain pihak tingkat acuan BI dalam kisaran 6-7% sehingga dengan spread atau marjin 4-5% persen sangatlah menjanjikan. Naiknya IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan diatas level 2500 per Oktober 2009 ini juga menggambarkan besarnya arus dana asing yang masuk di Indonesia.
Selain itu faktor internal lainnya yang mendukung penguatan rupiah adalah naiknya peringkat utang Indonesia oleh Moody's Investors Service. Hal ini semakin menaikkan daya tarik untuk membeli obligasi yang dikeluarkan pemerintah. Selain itu yang menjadi perhatian hangat dari investor luar terutama adalah naiknya tingkat keyakinan keamanan dan ketertiban Indonesia setelah terbunuhnya gembong teroris Noordin M. Top dan beberapa sindikatnya yang tidak dapat dipungkiri meniupkan angin sejuk di iklim investasi.
Yang lebih hangat lagi adalah rupiah yang juga terangkat oleh sentimen baik yang dihembuskan oleh harapan akan kabinet pemerintahan yang baru. Penulis memperkirakan kemungkinan puncaknya akan terjadi pada 21 Oktober terutama jika kabinet baru terbentuk dengan dinilai kuat dan positif bagi perekonomian Indonesia. Peluang rupiah masih bisa menanjak ke 9.200-9.300 per dolar AS. Kemungkinan rupiah masih mempunyai peluang untuk menguat sampai 9.000 bahkan 8.900 per dolar AS. Jika tertekan melemah pergerakan akan berada pada range 9500-10.000 per dollar AS.

Selasa, 29 September 2009

Ekspektasi G-20 Pittsburgh akan percepatan pemulihan ekonomi


Sesi minggu lalu telah dilangsungkan pertemuan puncak 20 negara ekonomi terkemuka (G20) dimana terdapat persetujuan untuk memberdayakan negara-negara berkembang di dunia dan mendorong pemulihan yang berkelanjutan di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Berkaitan dengan tanggapan forum G-20 dalam sesi pemulihan resesi ekonomi ini, beberapa poin kesepakatan menajdi hal yang menarik untuk di telusuri lebih lanjut terutama berkaitan dengan tekad para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam G-20 memerangi krisis finansial dengan memperkuat sistem perbankan dan perekonomian global.
Selama pertemuan yang berlangsung pada 24-25 September itu, para pemimpin ekonomi dunia sepakat menyusun tingkat kerjasama yang lebih erat dan mantap dalam menuju pertumbuhan yang berkelanjutan serta memperkuat peraturan perbankan. Disebutkan, di akhir tahun 2010, negara-negara akan setuju pada aturan-aturan yang bertujuan meningkatkan "kuantitas dan kualitas" modal bank dan mengecilkan pengambilan risiko berlebihan. Mereka juga menetapkan untuk memulai menegakkan aturan-aturan tersebut pada akhir tahun 2012. Hal tersebut terbaca pada salah satu poin yang ditetapkan dalam forum Pittsburgh yaitu “Kompensasi berlebihan bagi para eksekutif di sektor perbankan akan diakhiri karena mendorong risiko. G20 menentang jaminan bonus multi-tahun, mendesak transparansi yang lebih besar dan menyerukan Dewan Stabilitas Keuangan G20 untuk mengusulkan langkah-langkah baru pada Maret 2010.” Selain pembahasan pada penentuan kompensasi berlebih pada eksekutif perbankan tersebut juga diungkit bahwa G20 akan membuat pentahapan peraturan baru untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas modal bank, yang dipandang sebagai kekurangan utama dalam krisis ekonomi global. Dalam masa krisis yang lalu industri perbankan menelan kerugian US$ 1,6 triliun, namun bertekad menghindari pemberian bonus dan kompensasi besar-besaran yang sebelumnya diberikan selama bertahun-tahun kepada para petinggi bank. G20 menetapkan tujuan pengembangan aturan pada akhir tahun 2010 dan mengimplementasikannya pada akhir 2012.
Menurut Daniel Gurusinga, Head of Research and Education, PT. IMF bahwa 2 poin tersebut diatas memang sangat tepat untuk ditetapkan mengingat ketidaksiapan sektor perbankan dalam menghadapi setiap kemungkinan dalam goncangan ekonomi adalah salah satu faktor peledak krisis finansial yang lampau. Daniel Gurusinga mengingatkan kepada pembaca bahwa pemicu kuat krisis finansial Oktober 2008 lalu adalah pola kegagalan perusahaan finansial yang juga dipengaruhi oleh krisis kredit perumahan. Sebuah fenomena krisis yang notabene berhasil menggoncangkan perusahaan perbankan raksasa Amerikapun.
Dalam forum tersebut juga tersepakati untuk terus bekerja menstimulus pertumbuhan ekonomi dan menstabilkan sistem keuangan menyusul krisis finansial terburuk selama beberapa dasawarsa. Bertalian dengan maraknya kebijakan stimulus yang di kembangkan oleh pembuat kebijakan moneter. Sebagai contoh pada awal tahun ini, Amerika meluncurkan program paket stimulus senilai $787 milyar, hanya dampak positif belum dirasakan maksimal. Oleh sebab itu salah satu poin yang ada adalah G20 akan berkoordinasi untuk menemukan waktu yang tepat untuk mengurangi langkah-langkah stimulus sebagai bagian dari upaya untuk mengembalikan pertumbuhan dunia menjadi tinggi, berkelanjutan dan seimbang.
Selain itu hal menarik lainnya akan proyeksi G20, yang menyatukan negara-negara maju dan berkembang merupakan 90 persen dari ekonomi global, akan menggantikan Kelompok Delapan (G8) dari negara-negara kaya di dunia sebagai forum unggulan.
Sekarang tinggal menunggu pengimplementasian nyata dari komitmen G-20 apakah akan berimbas positif efektif bagi pemulihan ekonomi dunia.
Forum G-20 pada dewasa ini tampaknya telah menjadi forum bergengsi dunia sebagai tempat berhimpunnya kekuatan-kekuatan ekonomi dunia, seperti AS, Inggris, Jepang, dan Uni Eropa serta BRIC (Brazil, China, India dan Rusia) yang mewakili 85% GDP dunia dan 2/3 populasi dunia. Tergabungnya kekuatan ekonomi dunia ini menjadi sangat signifikan sejak dunia mengalami krisis finansial global Oktober tahun lalu. Hal tersebut mencuat setelah forum G-8 yang merupakan pengelompokan negara-negara industri maju dianggap tidak lagi relevan maka pada G-20 kini harapan masyarakat internasional dalam rangka perbaikan perekonomian dunia.

Selasa, 08 September 2009

Gold Most Wanted?


Pernahkah anda mendengar sesuatu yang “most wanted”? Langsung terbayang sesuatu yang dicari-cari dan menjadi sesuatu yang spesial. Pembahasan artikel kali ini melanjutkan artikel minggu lalu dimana emas yang diangkat menjadi topik tengah gencar dibicarakan.
Ditengah gelombang membaiknya laju perekonomian global ini yang menarik adalah perubahan pola masyarakat investasi yang cenderung Risk Appetite menjadi Risk Aversion.
Perlu diketahui Definisi Risk Aversion mengacu kepada kepada pola kebiasaan investasi yang lebih menghindari resiko. Seorang investor menghindari risiko dalam penambahan saham yang berisiko tinggi atau investasi portofolio. Investor mencari sisi invetasi yang "aman" umumnya akan tetap berpegang pada dana dan indeks obligasi pemerintah. Sedangkan definisi dari Risk Appetite adalah tipe investor yang berbanding terbalik. Tipe investor yang menyukai untuk berinvestasi pada sisi yang lebih beresiko seperti pada pada saham serta perdagangan futures. Hal ini dikarenakan kesiapan dari pola manajemen keuangan yang telah diatur sedemikian rupa sehingga bila terjadi kerugian maka aset aman dari investor tersebut tetap dapat bergerak.
Dalam pengamatan penulis, emas yang kembali bergerak ke level penguatannya dimana emas dapat menembus level tertinggi sejak bulan February yang lalu.
Emas yang dianggap sebagai save hafen commodity. Hal ini dikarenakan fakta emas adalah salah satu instrumen yang diburu saat kondisi ekonomi memburuk untuk mengamankan investasi karena harganya cenderung stabil atau menjadi instrumen hedging atau lindung nilai kala ekonomi membaik untuk melindungi investasi dari lonjakan inflasi.
Komoditas emas terlihat sangat mudah dipengaruhi oleh siklus ekonomi, contohnya saja kenaikan harga emas secara dramatis dari awal tahun ini, didasari oleh keyakinan recovery ekonomi berbentuk V, antisipasi inflasi yang disebabkan stimulus yang sedang gencar dikucurkan oleh The Fed (Bank Sentral AS), dan kebijakan suku bunga mendekati nol persen yang diadopsi oleh negara maju.
Selain itu siklus perubahan harga emas juga cukup dipengaruhi oleh siklus pola musiman, harga emas cenderung melemah di musim panas akibat lemahnya permintaan akan perhiasan. Permintaan perhiasan biasanya kembali meningkat di musim gugur, bersamaan dengan musim pernikahan di India, Ramadhan, Natal dan Tahun Baru China.
Bagaimana dengan tingkat suku bunga yang akan sangat berkorelasi dengan pergerakan emas? Dalam beberapa tahun ini, pembuat kebijakan moneter dunia lebih memilih untuk menurunkan serta mempertahankan level suku bunga pada level yang cukup rendah. Suku bunga Amerika misalnya yang dipertahankan pada level 0-0,25% terlihat pola kebijakan Bank Sentral Amerika yang masih hati-hati dalam menyatakan ketegasan krisis finansial telah berakhir atau belum. Di sisi lain pasar juga melihat fakta pergerakan perbaikan ekonomi global yang masih belum jelas. Beberapa waktu yang lalu diumumkan sektor tenaga kerja Amerika yang ternyata lebih buruk daripada perkiraan pasar. Dari data terakhir dilaporkan tingkat pengangguran Amerika yang memburuk dari level 9.4% yang diperkirakan hanya memburuk ke level 9.5% ternyata dirilis memburuk ke level 9.7%. Secara keseluruhan pasar masih melihat masih lemahnya sektor kekuatan ekonomi Amerika yang terwakili oleh “unemployment rate” yang memburuk. Pergerakan dolar terhadap mata uang mayor lainnya cenderung mengalami pelemahan yang merupakan insentif yang sangat baik bagi penguatan emas.
Penulis melihat kemungkinan yang lebih besar bagi emas untuk dapat terus bergerak pada level diatas $ 950 per troy ounce. Faktor pemicu pertama adalah minat pasar terhadap pasar komoditi yang masih tinggi. Emas menjadi “Most Wanted Commodity” untuk mengamankan keuangan dari gejolak finansial yang mungkin kembali timbul. Pasar juga melihat kemungkinan tipe recovery ekonomi tipe W dimana dimungkinkan ekonomi yang akan menghadapi jurang yang lebih dalam daripada krisis yang terjadi Oktober tahun lalu. Faktor kedua adalah kecenderungan pelemahan nilai tukar dollar yang menjadi triger penguatan bagi emas.
Peluang besar bagi emas untuk menembus level psikologisnya di level $1000 per troy ounce. Tinggal menunggu tertembusnya level $998.70 per troy ounce yang tercapai pada February yang lalu, diikuti dengan level tertinggi tahun ini di $1005.70 per troy ounce. Level psikologis menjadi begitu pentingnya sehingga bila terjadi manuver gejolak harga emas dapat kembali diperdagangkan di atas $1000 per troy ounce. Level support berada pada level 945.70 yang dapat tercapai bila terdapat koreksi tajam setelah kenaikan yang terjadi beberapa minggu ini.

Selasa, 25 Agustus 2009

Masih Akan Meningkatkah Emas?

Selama ribuan tahun, emas telah dinilai sebagai mata uang global, suatu komoditi, suatu investasi serta sebagai sarana subyek keindahan. Dalam beberapa tahun ini dimana terlihat rally harga emas yang berkelanjutan serta didukung oleh fakta bahwa pasokan melebihi permintaan secara konsisten, jelas merupakan faktor positif dalam kemungkinan kenaikan harga emas dalam jangka waktu menengah dan panjang.
Krisis ekonomi global yang mengguncangkan semua lini ekonomi dunia, tidak terhindarkan negara-negara besar yang notabene mempunyai cadangan keuangan yang lebih kuat daripada negara berkembang juga terkena dampaknya. Keadaan sedemikian rupa yang seakan-akan menyempitkan ruang investasi. Sebuah hal yang membuat setiap orang berpikir seribu kali dalam berinvestasi. Lain halnya ketika roda laju perekonomian dalam taraf yang sehat, tidak adanya gejolak keuangan maka pasar modal menjadi pilihan cepat untuk mengejar keuntungan. Tapi ketika resesi, (terlebih bila pembaca melihat fakta resesi yang baru-baru terjadi di awal Oktober 2008 yang lalu), saham tidak lagi menjadi pilihan yang tepat untuk investasi jangka panjang. Sekarang orang cenderung untuk beralih ke investasi yang lebih aman. Fakta yang ada, emas adalah salah satu instrumen yang diburu saat kondisi ekonomi memburuk untuk mengamankan investasi karena harganya cenderung stabil atau menjadi instrumen hedging atau lindung nilai kala ekonomi membaik untuk melindungi investasi dari lonjakan inflasi. Menurut penulis, berikut beberapa alasan mengapa emas adalah sarana investasi yang sangat baik. Seiring dengan berkembangnya waktu, emas telah mewakili sebuah investasi yang sangat baik yang memegang nilai riil. Bila kita analisa dengan cermat, emas dapat dikatakan selalu bergerak meningkat selama periode inflasi tinggi dan ketidakstabilan keuangan. Hal ini bagaikan analogi pasokan terbatas emas yang tidak dapat dicetak untuk membiayai defisit pengeluaran pemerintah.
Oleh sebab itu emas adalah sarana lindung nilai yang sangat baik terhadap inflasi dan deflasi atau keruntuhan keuangan.
Dalam beberapa bulan ini pergerakan emas dipengaruhi faktor-faktor besar antara lain penurunan nilai mata uang dollar AS, perubahan cadangan devisa, perubahan gaya investasi terhadap aset berisiko serta tidak, dan kekhawatiran pada inflasi.
Di sisi lain, the Fed akan tetap menjaga target untuk suku bunga di kisaran level 0 - 0.25% dan akan terus mengantisipasi kondisi ekonomi untuk menjamin bahwa tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral amerika ini akan bertahan dalam beberapa periode kedepan. The Fed juga menyatakan bahwa perekonomian amerika serikat sudah menunjukkan adanya tanda-tanda keluar dari fase terburuk krisis financial yang telah berlangsung dalam dua tahun terakhir. The Fed juga terlihat memperpanjang periode pembelian untuk treasury bond (surat hutang/obligasi negara) yang seharusnya berakhir September menjadi Oktober. Pandangan ekonomi the Fed cukup positif untuk pasar namun menyisakan sedikit keraguan melalui perubahan jadwal program pembelian obligasi the Fed.
Setelah pertemuan the Fed yang terakhir yang lalu, pergerakan emas merangkak naik di atas $950 per troy ons setelah sebelumnya sempat berada di level $940 per troy ons. Tingkat keoptimisan yang tinggi terhadap pemulihan ekonomi terlihat pada terdorongnya kembali transaksi yang mengandung resiko termasuk di komoditi.
Dari faktor ekonomi yang ada beberapa waktu ini, penulis melihat kemungkinan yang lebih besar bagi emas untuk dapat terus bergerak pada level diatas $ 900 per troy ounce. Faktor pemicu pertama adalah minat pasar terhadap pasar komoditi yang masih tinggi. Ditengah pemulihan ekonomi yang masih nampak abstrak ini emas masih punya kemungkinan besar untuk meningkat. Faktor kedua adalah kekuatan nilai tukar dollar Amerika yang belum mempunyai motor yang kuat untuk kembali menguat secara signifikan, terlebih dengan rendahnya tingkat suku bunga yang diputuskan oleh the Fed. Selain itu faktor kekhawatiran masyarakat akan meningkatnya kembali level inflasi juga menjadi faktor pendorong tersendiri bagi penguatan level emas.
Penulis melihat dari sisi fundamental emas masih memiliki peluang untuk kembali meningkat atau paling tidak bertahan di atas level $900 per troy ounce. Ketidakpastian arah perbaikan ekonomi, semakin meningkatnya optimisme pasar terhadap aset beresiko serta meningkatnya kekhawatiran akan inflasi serta peningkatan harga komoditas lainnya seperti minyak yang kembali meningkat ke level 70an dollar per barrel. Terlebih bilamana terjadi peningkatan suhu eksalasi politik maka peluang emas untuk kembali meningkat akan jauh lebih besar.

Selasa, 11 Agustus 2009

Outlook Suku Bunga the Fed di tengah arus recovery

Minggu ini otoritas kebijakan keuangan Amerika Serikat atau the Fed akan mengadakan pertemuannya dan mengumumkan kebijakan keuangannya, terutama yang berhubungan dengan keputusan akan tingkat suku bunga Amerika. Perlu diketahui ada saat ini tingkat US rate berada pada level 0.25%.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah tingkat suku bunga yang telah dipertahankan the Fed dalam beberapa bulan ini akan dinaikkan?
Beberapa fakta yang menjadi pertimbangan otoritas keuangan Amerika adalah masih adanya beberapa data ekonomi mayor Amerika yang dinilai masih dalam tingkat yang mengkhawatirkan. Menteri Keuangan AS, Timothy Geithner mengungkapkan bahwa defisit perdagangan AS mencapai puncaknya sebesar 1 trilyun dollar AS atau 12% dari produk domestik bruto Amerika Serikat dalam jangka waktu sembilan bulan tahun anggaran 2009 ini. Hal ini juga merupakan kali pertamanya ini terjadi sehingga mengembangkan kemungkinan untuk dapat membengkak ke level 2 trilyun dollar AS. Fakta tersebut semakin memberikan kekhawatiran kekuatan ekonomi Amerika untuk bisa keluar dari krisis yang melanda Terlebih dengan adanya kemungkinan data ekonomi mayor seperti defisit anggaran Amerika yang diperkirakan mencapai sekitar 1.8 trillyun dollar AS atau sekitar 13% dari tingkat Pendapatan Bruto Amerika Serikat. Tingkat defisit yang membengkak tersebut disebabkan oleh karena kebutuhan yang besar yang diperlukan pemerintah AS untuk membiayai sejumlah kebutuhan dalam masa resesi. Kebutuhan tersebut juga membengkak dengan adanya kebijakan penurunan pajak oleh pemerintahan presiden Obama.
Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa defisit pada bulan Juni total 94,3 miliar dollar AS, mendorong kenaikan tingkat defisit sejak tahun anggaran dimulai pada bulan Oktober menjadi 1,09 triliun dollar AS. Terdapat perkiraan bahwa defisit untuk keseluruhan tahun dimungkinkan besar akan menyentuh level 1,84 triliun dollar AS pada bulan Oktober tahun ini. Perkiraan tersebut merupakan defisit terbesar sejak depresi besar di awal tahun 1940.
Membengkaknya level pengeluaran pemerintah Amerika memang dibutuhkan untuk menangani krisis keuangan global ini. Krisis keuangan yang terburuk sejak masa the Great Depression dan dimana juga terdapat tingkat pengangguran yang telah naik ke 9,5 persen.

Dalam kebijakannnya, pemerintah Amerika telah melakukan beberapa kebijakan menanggapi krisis yang terjadi. Kongres Amerika sudah menyetujui sebesar 700 miliar dollar dana stimulus untuk keuangan bank, automakers dan sektor lain, dan 787 miliar dollar paket rangsangan ekonomi untuk peningkatan laju roda perekonomian. Terlebih mengingat beberapa perusahaan raksasa Amerikapun mengalami kemunduran produksi bahkan beberapa diantaranya mengumumkan kebangkrutan.
Tingkat suku bunga Amerika dimulai sejak 18 September 2007, telah diturunkan levelnya dari 5.25% ke level 4.75%. Kebijakan cut rate tersebut juga terus dilanjutkan dalam beberapa pertemuan the Fed selanjutnya. Seiring dengan penilaian the Fed bahwa cut rate diperlukan demi menekan deflasi dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi Amerika. Sampai pada 16 Desember 2008 the Fed memutuskan untuk menurunkan level suku bunganya ke level 0.25%.
FOMC meeting atau pertemuan tingkat tinggi dari pejabat-pejabat bank sentral Amerika dimana the Fed akan mengadakan pertemuannya pada hari Selasa dan Rabu ini. Dan tepatnya pada Kamis dinihari akan mengumumkan hasil pertemuannya. Proyeksi terakhir diekspektasikan pasar bahwa the Fed untuk tetap mempertahankan level suku bunganya pada range 0.00% sampai 0.25%.
Baiknya data ekonomi dari sektor tenaga kerja yang dirilis pada minggu lalu juga telah meningkatkan spekulasi bahwa pembuat kebijakan moneter Amerika akan mulai mengetatkan kebijakan keuangannya pada awal tahun depan. Yang artinya adalah kemungkinan bagi the Fed untuk berfokus pada inflasi dan menaikkan tingkat suku bunganya.
Dari data tingkat tenaga kerja Amerika terdapat pemotongan hubungan kerja sebesar 247.000 tenaker pada bulan Juli berada di bawah perkiraan analis sebelumya. Tingkat pengangguran juga membaik kel level 9.4% dari 9.5%. Kedua berita positif tersebut menandakan adanya aktivitas ekonomi Amerika yang cukup stabil dan menunjukkan estimasi positif akan membaiknya masa resesi ekonomi.
Beberapa analis memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada pertemuan minggu ini, namun menurut penulis hal ini masih terlihat cukup prematur untuk diputuskan. Walaupun beberapa data ekonomi Amerika menunjukkan perbaikan dalam beberapa minggu ini, namun proses recovery ekonomi merupakan proses yang masih akan cukup panjang. Hal ini juga menilik pernyataan ketua Bank Sentral Amerika, Ben Bernanke, bahwa perekonomian Amerika masih rentan dan perlu menjadi perhatian bagi the Fed untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunganya.
Yang kemungkinan menjadi fokus perbaikan ekonomi Amerika akan beralih kepada stabilisasi ekonomi pada tingkat konsumen, hal ini disebabkan tingkat konsumen menyumbangkan dua pertiga dari tingkat ekonomi Amerika.