Selasa, 15 Desember 2009

Outlook Krisis Dubai akan Krisis Finansial 2010


Krisis keuangan yang terjadi di Dubai beberapa waktu yang lalu sempat mengguncangkan sektor keuangan dunia yang notabene sedang menjalani tahap pemulihan dari krisis terburuk sejak tahun 1930an.

Dubai World, pengelola utama pembangunan Dubai, November lalu sempat mengumumkan gagal bayar atas sebagian utang yang jatuh tempo. Efek berantai yang ditakutkan pasar adalah kekacauan ekonomi yang kembali terjadi bilamana efek terbesar kekhawatiran bank-bank internasional yang bisa menderita kerugian besar jika utang Dubai sebesar US$60 miliar macet. 
Dalam moment tersebut Dubai World meminta kepada seluruh penyedia dana Dubai World dan Nakheel untuk tidak membayar utang (standstill) dan memperpanjang jatuh tempo pembayaran menjadi paling tidak 30 Mei 2010. Dubai World agresif dalam berinvestasi pada bisnis properti di Amerika Serikat, Inggris dan Afrika Selatan. Akibat krisis global, pasar perumahan Dubai terperosok. Beberapa bulan lalu, Dubai World memiliki utang lebih dari US$59 miliar, atau sekitar tiga perempat utang pemerintah US$80 miliar. Respon pasar sangat cepat pada saat itu dimana level saham komoditas melemah di New York, London, dan Asia. Investor memilih untuk segera mengalihkan investasi kedalam bentuk dolar AS yang dianggap lebih aman. Pengumuman ini memunculkan spekulasi bahwa negara kaya di Uni Emirat Arab (UEA) itu diambang krisis. Yang menjadi hal menarik adalah Dubai sebagai daerah impian di tengah gurun dapat mengalami kemunduran kemampuan membayar hutangnya. Dubai juga menjadi symbol kemakmuran penghasil minyak, setelah kejadian mengejutkan ini maka mengingatkan akan tetap terbukanya kemungkinan efek krisis bagi setiap negara tanpa terkecuali.
Bank-bank besar yang berusaha memulihkan tingkat kestabilan modal dan return mereka nampaknya harus kembali waspada dan mulai melakukan kebijakan pengetatan pinjaman dari kemungkinanan gagal bayar setiap korporasi. Mulai dari Baltik hingga daerah Mediterania, perbankan mulai memperhatikan pinjaman yang akan segera jatuh tempo. Bahkan di daerah Rusia sebagai penghasil minyak mentah juga mulai melakukan penghitungan ulang akan kemampuan pengembalian hutang yang akan segera jatuh tempo. Negara-negara kaya seperti Jepang dan Amerika harus menaikkan tingkat pengeluaran pemerintahnya demi menstimulasi laju ekonominya, tengah dilanda kekhawatiran akan kuat tidaknya untuk terus menanggung beban utang dan pelebaran defisit keuangan yang semakin besar. Terlebih dengan berkembangnya ancaman pembengkakan inflasi. 
Dari data yang ada terdapat fakta yang cukup mengejutkan. Misalnya pada keuangan Jerman yang mengalami pembengkakan defisit keuangan. Tingkat hutang pemerintah yang beredar diperkirakan meningkat menjadi setara dengan 77% dari output ekonomi nasional tahun depan, dari 60% pada tahun 2002. Data yang lebih mengejutkan lagi adalah fakta bahwa pembengkakan hutang juga terjadi di Inggris dimana terjadi pelipatan hutang sebesar 80%. Dengan masih belum pulihnya kekuatan ekonomi global, nampaknya masih akan banyak negara yang akan membutuhkan dana talangan demi tetap menjaga laju ekonominya. 
Hanya saja tidak ada jaminan yang kuat dari bagi pinjaman korporasi dari pemerintah akan kemungkinan gagal bayar keuangannya. Sikap penolakan dari pemerintah Dubai terhadap penjaminan hutang Dubai World dapat menimbulkan preseden buruk bagi jaminan terhutang pemerintah yang dapat sewaktu-waktu meninggalkan korporasi yang pernah mendapatkan dukungan penuh pemerintah. Kemungkinan sama pada tahun 2010 akan terjadi akan besar mengingat akan berkurangnya kemampuan pemerintah untuk terus menjamin hutang korporasi yang ada.
Beberapa waktu kedepan negara-negara yang kini bertugas sebagai penjamin implisit mengubah fokus mereka untuk masalah-masalah ekonomi domestik mereka. Salah satu ciri krisis finansial adalah beberapa pemerintah yang lebih memilih pengambilan utang jangka pendek. Di Amerika Serikat, misalnya, utang Treasury jatuh tempo dalam satu tahun telah meningkat dari sekitar 33 persen dari total utang dua tahun lalu menjadi sekitar 44 persen pada musim panas ini. Amerika Serikat akan segera memiliki masalah utang sendiri. Kemungkinan kebijakan untuk mengurangi jatah kucuran dana bagi negara berkembang akan semakin besar. Hal inilah yang akan bertumbuh menjadi kesulitan besar bagi begara berkembang disaat negara berkembang akan menghadapi kebutuhan pembiayaan hutang jatuh tempo mereka maka negara berkembang mungkin harus meminjam uang sekitar US$65 miliar pada 2010 . 

Selasa, 08 Desember 2009

Sektor Tenaga Kerja Sempat Apresiasi US$


Sektor tenaga kerja AS secara mengejutkan dirilis menguat diatas perkiraan para analis. Jumlah tenaga kerja AS di sektor non-pertanian dirilis melemah 11 ribu tenaga kerja. Data ini jauh lebih baik daripada perkiraan analis akan adanya pelemahan tenaker sejumlah 111 ribu. Selain dari itu, data yang lebih mengejutkan pasar adalah membaiknya tingkat pengangguran AS ke level 10%. Pada bulan lalu US$ sempat tertekan tajam terhadap mata uang lainnya. Ketika itu tingkat pengangguran dirilis membengkak ke level 10.2% pada bulan Oktober atau level terburuk dalam 26 tahun terakhir.

Lemahnya data tenaker tersebut menumbuhkan lemahnya kepercayaan terhadap kemampuan korporasi AS dalam memanfaatkan dana stimulus yang telah dikeluarkan oleh pemerintahan Obama sebesar 787 milyar US$. 
Dollar dalam sebulan perdagangan yang lalu menjadi mata uang yang yang masuk dalam zona pelemahan tajam. Terlebih dari itu pelemahan mata uang US$ menjadikan pengalihan gaya investasi yang mencari imbal balik yang lebih tinggi dan dinilai aman dari gejolak kenaikan inflasi. Hal ini seperti yang terjadi pada nilai kontrak berjangka emas dari level terendah tahun ini di US$801.90 per ounce telah menguat ke level rekor tertinggi tahun ini di US$1.226.10 yang dicapai Selasa (1/12) atau penguatan sekitar 52.8%. 
Membaiknya data tenaga kerja menjadi factor pemicu penguatan dollar serta memicu kekuatan koreksi dollar terhadap mata uang mayor lainnya. Pada sesi perdagangan Jumat (4/12) EUR sempat bergerak melemah ke level terendah minggu lalu di 1.4821 terhadap US$ atau melemah 5.3%. Begitu pula dengan mata uang Poundsterling yang tertekan ke level 1.6421 terhadap US$ atau tertekan 3.7%. Tekanan juga dialami oleh mata uang Yen Jepang yang juga melemah sebesar 3.1% ke level US$ 90.76 terhadap US Dollar. Reli penguatan US$ pada sesi perdagangan Jumat lalu disebabkan adanya anggapan turunnya tingkat pemotongan hubungan tenaga kerja tersebut adalah sinyal momentum perbaikan arah ekonomi AS sejak krisis terburuk tahun 1930-an. 
Di tengah kekuatan ekonomi AS yang bertumbuh menguat dalam kuartal ke empat tahun ini dan perbaikan data tenaker tersebut, analis juga memperingatkan akan kemungkinan kembali membengkaknya tingkat pengangguran AS. Perhatian terhadap pola kebijakan korporasi AS yang melanjutkan sistem kontrak tenaker menjadi penting di tengah perbaikan ekonomi AS.
Data sektor tenaga kerja merupakan indikator utama yang menjadi salah satu acuan pasar dalam menilai kekuatan ekonomi Amerika. Setelah US$ sempat tertekan tajam akibat krisis finansial yang lalu, pemerintahan Obama mengeluarkan dana stimulus sebesar US$787 milyar demi menanggulangi pembengkakan angka perusahaan yang terpaksa gulung tikar dan menyatakan kepailitan. Pembengkakan pengangguran terjadi seperti pada awal tahun ini beberapa perusahaan raksasa Amerika seperti General Motors, Caterpillar, Pfizer mengumumkan angka pemotongan tenaker sebesar 45ribu. 

Suku bunga Swiss dan Inggris
Minggu ini akan juga dirilis dua data suku bunga SNB (Swiss National Bank) dan BoE (Bank of England). Pengumuman kebijakan suku bunga minggu ini akan diawali oleh SNB yang dijadwalkan akan merilis pada hari Kamis (10/12) dimana diprediksikan akan tetap mempertahankan level suku bunganya di level 0.25%. SNB masih menerapkan kebijakan ekspansif dengan zero interest rate policy-nya. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pemulihan perekonomian di negara tersebut. Ancaman deflasi masih membayangi perekonomian Swiss, sehingga masih kecil sekali kemungkinan SNB akan beranjak untuk menaikkan suku bunga acuannya. Begitu pula dengan BoE yang akan merilis pengumuman suku bunganya pada hari Kamis (10/12). Pola mempertahankan suku bunga rendah nampaknya akan masih menjadi pilihan bagi BoE dengan tetap menjaga rate di 0.50%. Nilai produksi Inggris telah turun hampir 6% sejak awal tahun 2008. Pendapatan domestik bruto terus menurun dalam kuartal ketiga. 
Kita lihat apakah data ekonomi AS dan negara lain minggu ini akan mengakibatkan berlanjutnya penguatan US$ atau semakin membuka peluang akan pengalihan investasi ke portofolio lainnya.

Selasa, 01 Desember 2009

Fokus Data Ekonomi Minggu Ini


Fokus pasar terhadap kebijakan suku bunga dari negara-negara mata uang mayor dunia serta terhadap perkembangan dari sektor tenaga kerja Amerika akan menjadi fokus minggu ini.

Perdagangan sesi minggu lalu, dollar Amerika tertekan tajam oleh penguatan Yen Jepang. Pelemahan dollar terhadap Yen Jepang tersebut telah membawa kepada level terkuatnya dalam 14 tahun terakhir ini yang berada pada level 84.79 atau menguat 4.9% terhadap dollar AS. Pelemahan dollar terhadap Yen tersebut merupakan pelemahan terbesar sejak tahun 1995 setelah pemerintah Amerika menyatakan AS tidak akan menjadi negara yang menopang pemulihan ekonomi sejak krisis finansial. Penguatan Yen yang tajam tersebut memaksa Menteri keuangan Hiroshisa Fujii untuk menghubungi otoritas AS dan Eropa mengenai kebijakan yang perlu dalam menghadapi penguatan Yen yang berlebihan. 
Tekanan yang dihadapi dollar Amerika juga mendorong penguatan pada mata uang Euro hingga menyentuh titik tertinggi di tahun ini di 1.5143 atau penguatan 1.1% dari titik terendah Euro pada awal tahun ini. Kepercayaan masyarakat Eropa terhadap outlook ekonomi Eropa membaik ke level tertinggi satu tahun ini di bulan November. Hal ini sebagai pertanda kuatnya pemulihan dari resesi terburuk dalam enam dekade. Selain itu indeks sentimen ekonomi Eropa dirilis naik ke level 88.8 yang merupakan level tertinggi sejak September 2008.
Begitu pula dengan penguatan yang terjadi di mata uang Swiss Franc yang mencapai level terkuatnya dalam tahun ini di 0.9915 atau penguatan 0.19% dari titik tertinggi tahun ini. Penguatan tersebut memaksa SNB (Swiss National Bank) untuk mengintervensi pasar valas sejak Maret dengan cara menjual franc demi melemahkan mata uangnya dan menghindari deflasi. SNB juga menurunkan bunga mendekati level nol persen dan membeli obligasi sejumlah perusahaan. 
Di lain pihak, dollar Australia diperdagangkan melemah terhadap dollar Amerika hingga ke level 0.8944 atau pelemahan 0.04% dari titik tertinggi minggu lalu. Pesimisme terhadap kekuatan perekonomian Australia tergambarkan dari belanja modal swasta Australia turun 3,9% pada kuartal III, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar $26,55 milyar. Pelemahan yang terjadi pada mata uang negara kangguru tesebut juga dipengaruhi oleh sentimen antisipasi pengumuman suku bunga Australia yang akan diumumkan pada sesi minggu ini.

Fokus Data Mayor
Selasa ini (1/12) RBA (Reserve Bank of Australia) diestimasikan akan menaikkan suku bunga dikarenakan ekonomi global telah melanjutkan pertumbuhan. Pengumuman yang akan dirilis pada pukul 10.30WIB tersebut menjadi wacana tersendiri di tengah pola kebijakan moneter Australia yang menaikkan suku bunganya dalam proses pemulihan krisis ini. Kondisi ekonomi di Australia dinilai lebih kuat daripada yang diharapkan dan indeks kepercayaan telah pulih. Prospek jangka menengah untuk investasi muncul ke arah positif. Ada beberapa tanda-tanda awal sebuah perbaikan dalam kondisi pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran sekarang cenderung berada pada tingkat yang rendah daripada sebelumnya.
Fokus pasar juga akan teralihkan pada jadwal pengumuman suku bunga Eropa yang akan dirilis pada hari Kamis (3/12). Pola kebijakan yang tetap mempertahankan level suku bunga mendekati nol persen (1%) nampaknya masih menjadi pilihan bagi ECB (European Central Bank). Inflasi Eropa tetap negatif pada bulan Oktober, pada -0,1%, namun diperkirakan akan berbalik positif lagi di November karena kenaikan harga minyak sebesar 15%. Masih lemahnya data perekonomian Eropa dan masih rentannya pemulihan ekonomi global menjadi tekanan bagi ekonomi Eropa.
Namun data yang tidak kalah pentingnya adalah pengumuman tingkat pengangguran Amerika yang dijadwalkan dirilis hari Jumat (4/12) ini. Pasar akan sangat memperhatikan data ini mengingat data tingkat pengangguran di bulan Oktober yang berada di level 10.2% atau level pengangguran tertinggi Amerika selama 26 tahun ini. Perkembangan dari pelemahan sektor manufaktur akan menjadi tekanan bagi pertumbuhan lapangan kerja Amerika. Bilamana sektor ini terus menembus level terburuknya maka dollar akan semakin terpuruk terhadap mata uang mayor lainnya. 

Selasa, 24 November 2009

Peluang Komoditi dalam Pelemahan Dollar


Nilai tukar mata uang dollar Amerika terus bergerak melemah dalam jangka waktu beberapa tahun ini. Tren pelemahan berlanjut setelah kejatuhan pasar finansial Oktober 2008. Efeknya beberapa perusahaan raksasa Amerika mengalami kebangkrutan yang berimbas pada membengkaknya pengangguran.

Sektor keuangan juga tidak luput dari imbas krisis tersebut. Dow Jones Amerika tertekan ke level terendah di 6.469.95, sedangkan S&P 500 tertekan ke level 666.79, begitu juga dengan Nasdaq yang tertekan ke level 1.265.95. 
Demikian juga dengan permasalahan akan membengkaknya defisit perdagangan Amerika yang menjadi momok tersendiri. Laporan terakhir mencatatkan defisit perdagangan kembali membengkak ke level terburuknya di level $176.36 milyar atau membengkak $20 milyar dari data terakhir. Data tersebut lebih buruk dari perkiraan analis keuangan yang sebelumnya memprediksi defisit hanya akan berada di level $175 milyar. 
Untuk tetap mempertahankan dan menjaga agar sector riil tetap bergerak maka US Fed (Bank Sentral Amerika) mengambil jalan untuk menurunkan tingkat suku bunganya. Hal ini dilakukan agar tidak banyak dana masyarakat yang dialihkan ke sektor keuangan untuk menghindari ketidaksiapan dana masyarakat bila terjadi krisis keuangan. Suku bunga Amerika dalam beberapa bulan ini dipertahankan di level terendahnya 0-0.25%. Keputusan yang diambil oleh pihak US Fed tersebut dilakukan juga ditengah belum kuatnya kepastian krisis keuangan ini akan berakhir. Hal ini secara langsung melemahkan kekuatan dollar terhadap mata uang utama lainnya sebagai efek dari pemindahan investasi asset berdenominasi dollar ke instrument keuangan ataupun asset keuangan yang menawarkan imbal balik yang lebih tinggi.
Yang terjadi di pasar adalah semakin maraknya “US dollar carry trade” atau aksi peminjaman dollar Amerika dengan beban suku bunga rendah. Kemudian menempatkan investasi keuangan di mata uang atau komoditi lain yang menawarkan tingkat imbal balik yang jauh lebih tinggi. Saat ini yang menjadi target penempatan asset keuangan adalah di area Asia Pasific dimana kebanyakan negara menawarkan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari Amerika. Indonesia dengan 6.5% dan Australia dengan 3.5% menjadikan selisih yang cukup besar dibandingkan 0.25%. 
Sebagai contoh investor dapat meminjam dollar Amerika kemudian menempatkan asset di instrument investasi Indonesia. Dengan perbedaan selisih 6-7% dengan suku bunga Amerika serta dengan tingkat pengembalian obligasi pemerintah Indonesia yang ditawarkan 9% menjadi sebuah ketertarikan tersendiri. 

Peluang menguatnya komoditi 
Pilihan untuk mempertahankan pelemahan dollar Amerika nampaknya sebuah pilihan yang diambil oleh Amerika demi menjaga tetap tumbuhnya sector ekspor. Terlebih ancaman inflasi bukan merupakan sebuah focus pada saat pemulihan ekonomi.
Dalam tren pelemahan dollar saat ini, investor tetap mempunyai peluang dalam memanfaatkan euphoria yang ada. Aksi pemindahan asset dengan ekspektasi imbal balik yang lebih tinggi dan asset yang dinilai lebih aman dari tekanan inflasi ini menjadi pemicu dari penguatan sector komoditi seperti emas, minyak, dan perak. Seperti pada artikel penulis minggu lalu tentang penguatan emas yang diprediksi menguat ke level US$1.139.50 per ounce. Pada minggu lalu emas berjangka ditutup di level US$1.152.50 per ounce. Tren pergerakan emas ini diestimasikan bertarget di US$1.250.40 per ounce. Kemungkinan koreksi akan berada di level US$1.105.40 per ounce. Sama halnya dengan minyak yang masih mempunyai kekuatan untuk kembali menembus level US$80 per barrel. Level US$78 per barrel masih menjadi range perdagangan yang kuat. Namun bila level psikologis US$80 per barrel tertembus, maka akan semakin membuka peluang penguatan.

Selasa, 17 November 2009

Korelasi Penguatan Minyak dan Emas



Titik tertinggi level harga kontrak minyak berjangka tercapai di bulan Juni 2008 di level US$147.25 per barrel (1 barrel=158.987295 liter), sedangkan emas kontrak berjangka di bulan tersebut berada di level US$967.40 per ounce (1 ounce=31.103gram).

Secara umum perkembangan harga minyak sangat dipengaruhi laju inflasi yang sangat mempengaruhi laju ekonomi; seperti yang terjadi di Amerika sebagai salah satu negara konsumen minyak terbesar di dunia. Amerika membutuhkan hampir 25% dari hasil minyak dunia. Di lain sisi penguasaan asset minyak mentah Amerika hanya berada pada level 2%. Oleh sebab itu dengan tingkat kebutuhan konsumsi minyak bagi rumah tangga, pabrik dan kebutuhan militer yang besar menyebabkan tingkat ekonomi Amerika sangat rentan dengan perkembangan harga minyak mentah. Efek negative yang diterima Amerika dibandingkan dengan negara lain akan lebih besar ketika pasokan minyak yang berkurang seiiring dengan melonjaknya harga minyak 

Menurut artikel zeal LLC dari tahun 1965 ke 1994 terdapat korelasi yang cukup kuat antara minyak dan emas yang berada pada +0.879. Namun pada tahun 1985 sampai 2000 level korelasi tersebut terlihat memudar ke level -0.1333. Dan sejak tahun 2000 yang lalu, nilai korelasi tersebut menguat ke level +0.715. 
Harga minyak mulai meningkat dari level US$20 ke US$50an per barrel pada tahun 2004. Semenjak itu harga minyak mentah terus pada tren penguatan sampai menyentuh level tertingginya di tahun 2008 pada level US$147.25 per barrel. Hal yang sama dengan pergerakan emas yang memulai range harga di kisaran US$300 per ounce di tahun 2004 yang kemudian pada tahun-tahun berikutnya melambung menyentuh kisaran level US$1000 per ounce. 
Seiiring dengan kekhawatiran akan kembali melambungnya harga minyak mentah, kemudian OPEC sempat menetapkan harga minyak untuk terstandarkan di level US$70 per barrel. Namun level tersebut masih saja tertembus di tengah semakin meningkatnya jumlah kebutuhan dan permintaan minyak. Produksi minyak mentah menurun ditengah krisis geopolitik dan keamanan yang terjadi di Nigeria dan Iran sebagai pemasok minyak. 
Beberapa analisa menyebutkan kemungkinan besar bagi minyak untuk terus menguat level ke psikologis di US$100 per barrel. Ancaman akan hambatan tingkat produksi dimusim dingin akhir tahun masih membuat kemungkinan akan terhambatnya tingkat produksi minyak mentah Amerika. 
Di lain pihak kekuatan dollar Amerika semakin melemah seiiring dengan tekanan krisis financial, defisit keuangan, dan tingginya tingkat pengangguran yang mencapai 10.2% sebagai level tertinggi dalam 26 tahun ini. Pola pelemahan dollar ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi negara-negara produsen minyak mentah. Arab Saudi dan Kuwait mulai memilih untuk mendiversifikasi perdagangan minyak dalam bentuk euro daripada dollar Amerika dengan pertimbangan kestabilan dan resiko aset.
Dengan berlanjutnya pelemahan dollar maka tidak menutup kemungkinan bagi Cina, Jepang dan beberapa negara asia lainnya untuk mendiversifikasi aset ke dalam bentuk euro dan emas yang dinilai mempunyai ketahanan akan inflasi. Sebuah factor penguat kemungkinan emas akan kembali meningkat.
Fakta yang ada memperlihatkan minyak mempunyai korelasi yang kuat dengan harga emas dimana minyak mempunyai efek yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi dan perkembangan pasar keuangan. Di lain pihak emas menjadi “safe haven” atau asset yang dinilai tahan akan tekanan inflasi dan pelemahan dollar yang disebabkan oleh meningkatnya harga minyak.
Kenaikan yang terjadi level US$81.97 per barrel masih mempunyai peluang untuk kembali tertembus dengan estimasi target US$85-89 per barrel bila dalam beberapa hari ke depan data produksi minyak memburuk. Sedangkan level harga emas yang menyentuh US$1.130an per ounce mempunyai peluang terus menguat ke level US$1.250 per ounce.

Selasa, 10 November 2009

Ancang-ancang Meroketnya Emas



Dalam beberapa bulan ini rally harga emas yang didukung oleh fakta tekanan data ekonomi yang seolah-oleh mengkonfirmasi kenaikan harga emas. Hal ini jelas merupakan faktor positif dalam kemungkinan kenaikan harga emas dalam jangka waktu menengah dan panjang.
Pada sesi perdagangan Jumat, 6 November yang lalu level harga kontrak berjangka emas menembus level tertinggi sepanjang masa dengan menyentuh harga di US$1.100.70 per ounce (1 ounce=31.103gram).

Level kontrak harga emas berjangka pada tahun ini telah mengalami kenaikan 37.26% dari level terendahnya awal tahun di US$ 801.90 per ounce. Grafik pergerakan emas terlihat trend kenaikan yang cukup kuat pada tahun ini di tengah ketidakpastian pasar akan pemulihan ekonomi sejak krisis financial tahun lalu. 

Rekor harga emas yang tercapai Jumat lalu tidak lain adalah factor aksi borong pasar akan respon data ekonomi yang ada. Respon terhadap pelemahan nilai tukar dollar yang menjadi factor utama dimana investor cenderung mencari sarana investasi yang dinilai aman dari gejolak laju inflasi. Inflasi sendiri dikhawatirkan akan mulai meningkat pada kuartalan pertama 2010. 
Dirilisnya data sektor tenaga kerja Amerika Jumat lalu dinilai telah menembus level kewajaran. Tingkat pengangguran di Amerika membengkak ke level tertinggi selama 26 tahun sebesar 9.8% pada September lalu dan rilisan data October berada pada level kronis 10.2% pada akhir tahun ini. Hal ini menjadi acuan penilaian pasar akan kegagalan pemerintahan Obama untuk meregulasi dan mengefektifkan dana stimulus yang ada. Sebuah sinyal akan masih rentannya pemulihan ekonomi Amerika.
Suku bunga Amerika yang dipertahankan pada level 0-0,25% terlihat sebagai pola kebijakan Bank Sentral Amerika yang masih hati-hati dalam menyatakan ketegasan krisis finansial telah berakhir atau belum. Hal ini secara langsung melemahkan kekuatan dollar terhadap mata uang utama lainnya sebagai efek dari pemindahan investasi asset berdenominasi dollar ke instrument keuangan ataupun asset keuangan yang menawarkan imbal balik yang lebih tinggi.
Selain itu tembusnya level tertinggi emas juga dipicu oleh aksi bank sentral India yang membeli asset 200 ton emas dari IMF (International Monetary Fund) yang merupakan sebagian aksi dari rencana penjualan 403.3 ton emas IMF pada akhir tahun ini. Aksi Bank Sentral ini adalah kebijakan untuk mendiversifikasi asetnya ke bentuk lain selain dollar yang dinilai rentan akan pelemahan dan tekanan inflasi. Lain halnya dengan emas yang bergerak searah dengan laju inflasi. 
Langkah yang diambil oleh India untuk mengubah portofolio asset cadangan devisanya dari dollar AS ke emas menjadikan India sebagai negara nomer urut kesembilan dari 10 besar negara pemegang emas terbesar sebagai cadangan keuangannya di dunia. Aksi India ini diprediksi akan diikuti oleh Chinna, Rusia dan beberapa negara Asia lainnya.
Kenaikan level harga emas yang menembus di US$1.100.70 per ounce masih akan membuka peluang yang cukup untuk kembali mencoba kembali menyentuh harga tertinggi baru. Dengan memperhatikan aksi perubahan asset keuangan dari dollar ke emas oleh negara-negara besar beberapa waktu ini serta tekanan yang dihadapi oleh dollar Amerika maka emas masih mempunyai peluang jangka menengah dan panjang untuk bullish / menguat. Tren pergerakan emas beberapa minggu ini diestimasikan bertarget di US$1.139.50 per ounce. Selain itu yang perlu diperhatikan pasar adalah level harga komoditi (emas, minyak, perak, dll) yang juga mempunyai kecenderungan menguat pada akhir tahun yang merupakan efek berantai dari keterbatasan produksi minyak akibat musim dingin November-Desember.

Senin, 02 November 2009

Arah Kekuatan Dollar Penghujung Tahun



“The world is changing, and the dollar is losing its status. If you have a 5- year or 10-year view about the dollar, it should be for a weaker currency.” Kurang lebih sekitar 58 hari lagi penghujung tahun 2009 akan segera dilewati. Bagaimana dollar Amerika akan menutup buku pada tahun ini.
Dollar, mata uang yang telah menjadi currency global dalam beberapa dekade terlihat sempoyongan menghadapi arus pelemahan sektor financial dan kekuatan mata uang lainnya.

Sebesar 38 persen dari asset keuangan Amerika mengalami penurunan dari tingkat 63 persen tingkat rata-ratanya sejak tahun 1999. Kekuatan mata uang dollar Amerikapun terlihat melemah secara signifikan sejak kebijakan keuangan yang diambil oleh pemerintah Amerika untuk menjual obligasinya guna membiayai deficit keuangan yang terus-menerus membengkak sebesar 1.4 milyar dollar Amerika pada anggaran 2009 ini. 

Analisa Standard and Poors akan kemungkinan penurunan tingkat hutang dan defisit dari keuangan Amerika nampaknya tidak mengubah sentiment negative akan dollar. Fakta memperlihatkan beberapa negara mulai memindahkan cadangan devisanya dalam bentuk selain dollar Amerika. Di awal tahun 2009 sekitar 47,5 persen asset dari Bank Sentral Rusia telah didasarkan pada Euro, sedangkan lainnya terdiri atas 41,5 persen berbasis pada dollar Amerika. Situasi ini sama sekali berbeda pada awal tahun sebelumnya dimana 47 persen dari investasi yang dicadangkan dalam dolar AS, sementara investasi berada 42 persen. Selebihnya pemerintah Rusia menempatkan cadangan keuangannya dalam bentuk poundsterling Inggris, yen Jepang dan Swiss Franc. Kebijakan tersebut dimulai juga pada awal Oktober 2008 lalu ketika krisis finansial mulai menggoncangkan sektor financial yang bersumber dari kegagalan sector kredit serta dipicu oleh mulai meningkatnya harga minyak dari 50 dollar per barrel hingga menyentuh harga tertingginya di 147.37 dollar per barrel.
Poundsterling juga sempat menjadi currency kedua yang diminati selain dollar Amerika. Namun hal kekuatan poundsterling tidak dapat bertahan lama sejak beberapa kebijakan luar negeri Inggris yang kurang begitu berdampak baik bagi sentiment pasar. Tidak menutup kemungkinan hal ini dapat juga terjadi pada dollar Amerika. Faktor dari semakin membengkaknya defisit keuangan pada masa pemerintahan Bush dan kegagalan kredit yang terus menerus melemahkan posisi perekonomian Amerika. Hal ini juga masih nampak berpengaruh kuat pada masa pemerintahan Obama ini. Berbagai argument dan analisa akan kemungkinan mata uang alternatif yang dinilai cukup stabil yang menggantikan dollar Amerikapun kian muncul di permukaan. 
Fokus pasar tertuju pada outlook suku bunga bank sentral Amerika setelah dalam beberapa pertemuannya the Fed mempertahankan suku bunganya pada level 0.25 persen atau mendekati level nol persen. Terlebih setelah traumatic pasar setelah kegagalan kredit yang sempat membawa kerontokan dari Wallstreet dan mempailitkan perusahaan-perusahaan raksasa Amerika.
Walaupun beberapa pejabat bank sentral Amerika menyatakan keoptimisan akan kembali pulihnya ekonomi Amerika, nampaknya pasar belum begitu menaruh kepercayaan di asset berbasis dollar Amerika. Indikasi telah ekonomi Amerika dari resesi terdalam sejak great depression tahun 1930-an yang dibuktikan dengan meningkatnya serangkaian data fundamental ekonomi Amerika nampaknya tidak cukup untuk meyakinkan investor terhadap outlook suku bunga the Fed. Dari beberapa pertemuan terakhir juga the FED juga tidak menampilkan pernyataan yang kuat akan pulihnya ekonomi Negara paman Sam tersebut. 
Rilisan beberapa data ekonomi Amerika terlihat membaik, namun data yang masih dalam level yang mengkhawatirkan adalah sector tenaga kerja; tingkat pengangguran di Amerika membengkak ke level tertinggi selama 26 tahun sebesar 9.8% dan diperkirakan akan menyentuh angka 10% pada akhir tahun ini. Membengkaknya pengangguran tidak lain adalah efek rantai dari banyak perusahaan yang mengalami kegagalan akibat krisis kredit yang lampau. Data ini merupakan salah satu data sensitif yang akan menjadi tolak ukur penilaian pasar terhadap kekuatan ekonomi Amerika.

Dollar versus risk appetite
Akibat dari keputusan FED yang tetap mempertahankan level suku bunganya di level rendah tersebut akan semakin memperbesar kemungkinan dari aliran investasi keuangan Amerika yang kemudian dialihkan ke asset-aset atau mata uang yang mempunyai imbal balik yang lebih tinggi. Berkembangnya outlook pemulihan ekonomi global semakin meningkatkan minat investor terhadap perdagangan beresiko. Kembali menguatnya indeks Wall Street yang menguat ditopang oleh optimisme terhadap laporan keuntungan kuartal ketiga perusahaan-perusahaan Amerika menjadi gambaran akan pengalihan dari investasi risk aversion ke risk appetite seperti saham dan komoditi.
Contoh mudah adalah perbedaan imbal hasil Surat Hutang Negara (SUN) domestik Indonesia dan US Treasury yang masih merupakan imbal hasil tertinggi di kawasan Asia. Juga spread US rate dan suku bunga Indonesia misalnya yang berada di atas 5 persen menjadi alasan investor mengalihkan asset keuangannya dari dollar.
Beberapa analisa menggambarkan kemungkinan pelemahan dollar akan mengalami rebound bilamana Fed mulai menghentikan suku bunga yang mendekati 0 persennya. Seperti terlihat pada tahun 1990an, Investor sempat menghindari asset yang berbasis dollar Amerika. Ketika itu dolar Amerika terjungkal melemah ke level terendahnya sejak pasca perang dunia II di 79.75 terhadap Yen di April 19, 1995 di tengah perhatian pasar akan kebijakan FED yang tidak segera menaikkan suku bunga di tengah meningkatnya inflasi saat itu. 
Level harga minyak yang berada di new high 81.48 dollar per barrel menjadi tekanan tersendiri, bahkan dengan emas yang berada di 1070.50 dollar per troy ounce akan menjadi factor penekan terhadap dollar Amer. 
Dan inilah yang akan menjadi tantangan bagi pemerintahan Obama dalam mempertahankan kekuatan ekonomi Amerika pada penghujung tahun ini. Terlebih mengingat kebiasaan pola level harga minyak yang menguat di masa musim dingin akhir tahun yang akikaan berefek rantai bagi kontraksi dollar, maka tidak menutup kemungkinan dollar Amerika akan semakin terpuruk terhadap beberapa mata uang mayor lainnya.